Minke.id – Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Malang Malang, Deddy Prasetyo terus memperkuat strategi pengembangan UMKM dengan menerapkan tiga pilar kebijakan utama yakni, korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.
Dalam paparannya, Deddy menegaskan bahwa UMKM merupakan fondasi ekonomi Indonesia. Peran strategis sektor ini tercermin dari kontribusinya yang mencapai 57,14 persen terhadap PDB, atau setara Rp7.034,14 triliun, serta kemampuan menyerap 96,92 persen tenaga kerja secara nasional.
“UMKM adalah tulang punggung perekonomian kita. Namun potensi besar ini masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu kita jawab bersama,” ujarnya.
Meski berjumlah sekitar 65,5 juta unit, pelaku UMKM masih dihadapkan pada persoalan klasik: terbatasnya pembiayaan, rendahnya pemanfaatan digital, hingga sempitnya peluang pemasaran.
Deddy mengungkapkan, hanya 39,4 persen UMKM yang memanfaatkan marketplace, sedangkan pengguna e-commerce baru menyentuh 20 persen. Mereka yang belum masuk dunia digital rata-rata terkendala modal, literasi digital yang rendah, hingga keterbatasan SDM.
Di sisi ekspor, persoalan lain muncul. Banyak UMKM belum mampu memenuhi standar kualitas maupun kuantitas sesuai permintaan negara tujuan. Lemahnya pemahaman terkait market intelligence dan manajemen usaha juga menjadi hambatan.
Untuk menjawab berbagai masalah tersebut, BI menerapkan tiga pilar kebijakan pengembangan UMKM, yakni korporatisasi UMKM, peningkatan kapasitas,, dan perluasan akses pembiayaan.
BI memperkuat literasi pencatatan keuangan lewat aplikasi SIAPIK, sekaligus menyediakan basis data UMKM potensial yang dapat diakses oleh lembaga keuangan.
BI Malang juga mendorong digitalisasi UMKM melalui penguatan infrastruktur pembayaran seperti QRIS dan BI-FAST. Selain itu, pelaku UMKM difasilitasi untuk Go Digital melalui program e-Farming, e-Financing Support, dan e-Commerce.
“Digitalisasi dari hulu ke hilir menjadi kunci bagi UMKM agar mampu bersaing dan memperluas pasar,” jelas Deddy.
Untuk UMKM berorientasi ekspor, BI memperkuat strategi branding, memfasilitasi business matching, dan meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap pasar global. Langkah ini bertujuan memperluas peluang kemitraan dengan agregator maupun calon pembeli mancanegara.
“Promosi perdagangan sangat penting untuk mendorong UMKM naik kelas. Kami ingin UMKM siap bersaing di pasar global,” tegasnya.
Deddy juga berharap media berperan aktif membantu penyebaran informasi program UMKM agar publik semakin mudah mengakses pembinaan dan pembiayaan.

