iniSO.co – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) mencatat pembiayaan UMKM mencapai Rp 51,78 triliun hingga November 2025. Capaian ini sejalan dengan meningkatnya Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) BSI yang mencapai 33,91 persen, atau telah melampaui ketentuan regulator sebesar 30 persen.
Kinerja positif tersebut menegaskan peran Bank Syariah Indonesia sebagai salah satu motor utama pengembangan UMKM syariah di Tanah Air.
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan komitmen perseroan untuk terus menjadi garda terdepan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia.
“Pada tahun 2025, pembiayaan UMKM BSI tetap tumbuh secara tahunan (yoy) dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent), penguatan proses bisnis, serta fokus pada pengembangan ekosistem halal,” ujar Kemas dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, meski dihadapkan pada tantangan makroekonomi global dan penyesuaian daya beli masyarakat, segmen UMKM BSI tetap menunjukkan daya tahan (resilience) yang kuat dengan kualitas pembiayaan yang terjaga.
Pada periode tersebut, BSI mencatat jumlah nasabah UMKM mencapai lebih dari 349,71 ribu pelaku usaha. Hal ini membuktikan bahwa pembiayaan berbasis syariah terus tumbuh secara solid dan mendapat kepercayaan luas dari masyarakat.
Pertumbuhan pembiayaan UMKM BSI terutama ditopang oleh sektor perdagangan besar dan eceran, pertanian dan kehutanan, jasa kesehatan, serta industri makanan dan minuman halal yang terintegrasi dalam halal value chain.
Kemas menambahkan, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai stimulus ekonomi dan kebijakan pemerintah yang pro terhadap pelaku UMKM.
“Di antaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembiayaan UMKM bersubsidi melalui KUR Syariah, peningkatan kapasitas UMKM lewat pelatihan, hingga sertifikasi halal,” jelasnya.
Berbagai program tersebut dinilai memberikan angin segar bagi keberlangsungan dan ekspansi bisnis UMKM di tengah dinamika ekonomi.
Lebih lanjut, Erwan menekankan bahwa UMKM merupakan gate awal pembiayaan ritel yang sangat potensial apabila dibina secara tepat dan berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya sebatas akses pembiayaan, tetapi juga mencakup literasi keuangan, sertifikasi halal, serta akses pasar.
“Sinergi antara perbankan, pemerintah, dan off-taker adalah kunci agar UMKM bisa naik kelas. BSI telah memiliki UMKM Center di berbagai kota di Indonesia sebagai wujud nyata pendampingan dari hulu hingga hilir,” tutupnya.
BSI optimistis, dengan strategi yang tepat dan dukungan regulasi yang kuat, UMKM akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi syariah nasional pada tahun 2026.

