iniSO.co – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang menargetkan sebanyak 4.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat naik kelas pada tahun 2026. Target tersebut ditempuh melalui perluasan dan penguatan pola pendampingan yang lebih intensif dan terfokus kepada pelaku UMKM di Kota Malang.
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, menyebutkan bahwa saat ini jumlah UMKM di Kota Malang mencapai sekitar 40 ribu pelaku usaha. Dari jumlah tersebut, pihaknya menargetkan sekitar 10 persen UMKM mampu naik kelas pada 2026.
“Jumlah UMKM di Kota Malang sekitar 40 ribu. Di tahun 2026 ini kami mengupayakan agar 10 persen atau sekitar 4.000 UMKM bisa naik kelas,” ujar Eko, Jumat (23/1/2026).
Untuk mengejar target tersebut, Diskopindag Kota Malang akan memperluas sekaligus memperkuat program pendampingan UMKM yang selama ini telah berjalan. Meski secara konsep tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pendampingan pada 2026 akan dilakukan dengan intensitas dan fokus yang lebih mendalam.
Eko menjelaskan, cakupan pendampingan oleh tim pendamping direncanakan menyasar 50 hingga 100 UMKM per kelompok. Pendampingan tidak hanya berupa pelatihan umum, tetapi mencakup pendalaman materi secara komprehensif.
“Pendampingan akan kami perkuat, baik dari sisi intensitas maupun kualitas materi. Tim pendamping kami tekankan agar lebih detail, khususnya dalam hal pengemasan produk dan strategi pemasaran,” jelasnya.
Penguatan pendampingan ini dilakukan sebagai bentuk evaluasi atas capaian UMKM naik kelas pada 2025 yang dinilai belum optimal. Pada tahun lalu, jumlah UMKM yang berhasil naik kelas masih berada di kisaran ratusan pelaku usaha.
Lebih lanjut, Eko menegaskan bahwa UMKM dikategorikan naik kelas apabila menunjukkan peningkatan signifikan, antara lain dari sisi omzet tahunan, kelengkapan legalitas usaha, serta peningkatan kualitas produk.
“Indikator tersebut menjadi acuan utama kami dalam menilai UMKM naik kelas,” katanya.
Selain mendorong UMKM naik kelas di tingkat lokal, Diskopindag Kota Malang juga menargetkan peningkatan jumlah produk UMKM yang mampu menembus pasar ekspor. Sejumlah negara telah menjadi sasaran utama ekspor produk UMKM Kota Malang, seperti Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.
“Hingga akhir 2025, sebanyak 95 UMKM Kota Malang telah berhasil menembus pasar internasional. Mayoritas produk ekspor didominasi oleh komoditas keripik, khususnya olahan tempe,” ungkap Eko.
Jika digabungkan dengan produk UMKM lainnya seperti sektor kriya, nilai ekspor produk UMKM Kota Malang diperkirakan mencapai sekitar Rp100 miliar. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi UMKM dalam mendukung perekonomian daerah.
“Di tahun 2026 kami menargetkan jumlah produk UMKM yang ekspor bisa meningkat hingga 50 persen. Klinik ekspor akan kami maksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami juga memiliki kerja sama dengan mitra luar negeri,” pungkasnya.

