iniSO.co – Industri rokok skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai mendapat perhatian serius sebagai solusi mengatasi ketimpangan dalam rantai industri tembakau nasional.
Founder Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mendorong transformasi mendasar melalui penguatan pabrik rokok UMKM yang dinilai mampu menciptakan sistem industri yang lebih adil, khususnya bagi petani tembakau.
Pengusaha muda Nahdlatul Ulama (NU) itu menilai, pertumbuhan industri tembakau selama ini belum diiringi dengan peningkatan kesejahteraan petani. Menurutnya, petani masih berada pada posisi lemah karena hanya menjadi pemasok bahan baku tanpa memiliki kendali terhadap harga.
“Ada jarak yang terlalu lebar antara pabrik dan ladang. Petani hanya menjadi objek dalam rantai produksi, bukan penentu,” ujar Gus Lilur, Senin (30/3/2026).
Ia menyoroti kondisi di sejumlah daerah sentra tembakau seperti Madura, di mana ketimpangan terlihat jelas. Meski produk olahan tembakau memiliki nilai jual tinggi, petani justru belum merasakan manfaat ekonomi yang sepadan.
“Yang menanam tetap miskin, sementara yang mengolah menjadi kaya. Ini bukan semata persoalan ekonomi, tetapi masalah sistem,” tegasnya.
Sebagai solusi, Gus Lilur menawarkan pembangunan ekosistem industri berbasis daerah dengan mendirikan pabrik rokok UMKM di wilayah penghasil tembakau. Strategi ini diyakini mampu memotong rantai distribusi yang panjang sekaligus meningkatkan transparansi harga.
“Ketika pabrik hadir di dekat ladang, harga tembakau bisa lebih layak karena hubungan menjadi langsung dan transparan,” jelasnya.
Selain berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani, keberadaan pabrik rokok UMKM juga dinilai dapat menekan peredaran rokok ilegal. Dengan menyediakan produk legal yang terjangkau, masyarakat diharapkan tidak lagi beralih ke rokok ilegal.
“Solusinya bukan membiarkan ilegalitas tumbuh, melainkan menghadirkan alternatif legal yang adil dan terjangkau,” imbuhnya.
Gus Lilur mengaku telah memulai inisiatif tersebut dan optimistis gerakan ini dapat mengubah lanskap industri tembakau nasional menjadi lebih inklusif. Ia pun mendorong peran aktif pemerintah sebagai fasilitator dalam membangun struktur industri yang berkeadilan.
“Industri tidak boleh hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi dari seberapa adil manfaatnya dibagikan,” tandasnya.

