iniSO.co – Kementerian Perdagangan terus memperkuat dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar naik kelas hingga mampu menembus pasar global. Komitmen ini ditegaskan Budi Santoso saat mengunjungi dua pelaku UMKM binaan, yakni CV Berkah Pangan Nusantara dan PT Andara Cantika Indonesia di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (10/4/2026).
Kedua UMKM tersebut merupakan alumni Export Coaching Program (ECP) yang digagas Kemendag untuk mencetak eksportir baru. Dalam kunjungannya, Menteri Perdagangan yang akrab disapa Mendag Busan itu menegaskan pentingnya penguatan kapasitas UMKM melalui pendampingan terpadu.
“Kami akan terus memperluas jangkauan program melalui penguatan desain kemasan sesuai standar negara tujuan, strategi branding, kemitraan ritel modern, serta ekspansi pasar luar negeri,” ujar Budi Santoso.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Mardyana Listyowati dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal S. Shofwan.
CV Berkah Pangan Nusantara menjadi contoh nyata transformasi UMKM lokal menuju pasar global. Perusahaan yang bergerak di industri makanan olahan ini mengandalkan produk tepung bumbu siap pakai dengan berbagai merek seperti Syaza, Syakura, Geprek Crispy, dan Dapoerkoe.
Komitmen kualitas ditunjukkan melalui kepemilikan sertifikasi Halal, Good Manufacturing Practice (GMP), hingga Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). Dari yang awalnya hanya menjangkau pasar Jawa Timur, kini produknya telah merambah Jawa Tengah, Jabodetabek, hingga Makassar.
Bahkan, UMKM ini tengah bersiap melakukan ekspor perdana ke Nigeria setelah berhasil menjalin kontrak melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia dan program ECP. Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan proses perizinan sekaligus menjajaki ekspansi ke Malaysia.
Pemilik CV Berkah Pangan Nusantara, Ryza Sulistyanawati, mengaku program ECP membuka wawasan terkait mekanisme ekspor. “Saya jadi memahami cara negosiasi dengan buyer dan lebih percaya diri untuk masuk pasar internasional,” ujarnya.
Keberhasilan serupa ditunjukkan PT Andara Cantika Indonesia, UMKM produsen parfum dan skincare yang telah menembus pasar ekspor ke Brunei Darussalam dan Singapura. Perusahaan ini juga tengah membidik Nigeria sebagai pasar ekspor berikutnya.
CEO PT Andara Cantika Indonesia, Fanny Lia Sutanto, menyebut program ECP memberikan pemahaman komprehensif terkait ekspor, termasuk strategi negosiasi dan mitigasi risiko. “Kami juga difasilitasi business matching sehingga lebih siap menghadapi pasar global,” katanya.
Keikutsertaan dalam pameran internasional seperti Trade Expo Indonesia dan Malaysia International Halal Showcase turut memperluas jejaring bisnis perusahaan.
Mendag menegaskan, keberhasilan dua UMKM ini menjadi bukti efektivitas program pemerintah dalam mendorong UMKM menjadi eksportir mandiri. Melalui ECP, pelaku usaha tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga akses promosi internasional dan pertemuan langsung dengan buyer potensial.
Selain itu, Kemendag juga menjalankan program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang secara konsisten memfasilitasi business matching. Pada 2025, program ini mencatatkan nilai transaksi mencapai USD 134 juta, dengan 70 persen pelaku merupakan eksportir pemula.
“Kami optimistis, melalui sinergi program dan pendampingan berkelanjutan, UMKM Indonesia mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar global,” tegas Budi Santoso.

