iniSO.co – Sebanyak 20 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kopi asal Indonesia tampil dalam pameran internasional World of Coffee Bangkok 2026 yang berlangsung di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand, pada 7–9 Mei 2026. Kehadiran UMKM binaan Bank Indonesia (BI) tersebut menjadi langkah strategis memperluas pasar kopi Indonesia di tingkat global.
Puluhan UMKM kopi yang mengikuti pameran berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan hingga Papua.
Salah satu peserta pameran, Bali Arabica milik I Komang Sukarsana, menyebut keikutsertaan dalam World of Coffee Bangkok menjadi peluang penting memperkenalkan kopi lokal Indonesia kepada pasar internasional.
Menurut Komang, dukungan Bank Indonesia melalui pembinaan dan fasilitasi pameran membantu UMKM kopi terkoneksi langsung dengan petani hingga pelaku roastery global.
“Kenapa kami hadir di World of Coffee ini yang sudah di-support oleh BI. Kami bisa terkoneksi dari petani hingga roastery secara langsung, sehingga bisa memotong mata rantai distribusi dan melihat tren kopi di masa depan,” ujar Komang di sela acara di Bangkok, Jumat (9/5/2026).
Komang mengungkapkan kopi produksi Bali Arabica saat ini telah menembus pasar ekspor seperti Kuwait, Korea Selatan, Jepang hingga Amerika Serikat. Ia menilai ajang internasional seperti World of Coffee menjadi momentum memperluas pengenalan kopi Indonesia di pasar dunia.
Selain memperluas jaringan bisnis, transaksi dalam pameran juga didukung sistem pembayaran digital lintas negara melalui PromptPay Thailand yang terhubung dengan QRIS Indonesia. Sistem tersebut mempermudah transaksi tunai maupun nontunai bagi pembeli internasional.
Komang menambahkan, Bali Arabica kini melibatkan lebih dari 200 petani dari enam kelompok tani lokal dalam rantai bisnis kopi yang dijalankan. Pendampingan BI dinilai membantu peningkatan kualitas produk agar sesuai standar pasar ekspor.
“BI melakukan pendampingan di hulu, memberikan pelatihan, kurasi, dan melibatkan ahli kopi untuk menentukan kualitas produk. Ini mempercepat petani mendapatkan market yang sesuai,” katanya.
UMKM lain yang turut tampil yakni Beskabean Coffee Roastery asal Sumatera Selatan milik Hendra Susanto. Hendra mengaku bisnisnya berkembang signifikan setelah mengikuti program Wirausaha BI sejak 2017.
“Dulu saya sendirian, sekarang sudah punya 14 cabang dan 85 karyawan,” ujar Hendra.
Saat ini Beskabean telah memiliki kebun kopi sendiri di Semendo, Sumatera Selatan, dan mulai menjajaki pasar ekspor ke Jepang. Menurutnya, pendampingan BI tidak hanya berupa bantuan modal, tetapi juga penguatan manajemen usaha.
“BI lebih memberikan pancing dibanding uang. Kami dibina soal manajemen bisnis hingga bisa berkembang mandiri,” katanya.
Sementara itu, Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) Bank Indonesia, Maulisa Yanti Nasution mengatakan 20 UMKM yang dibawa ke World of Coffee Bangkok telah melalui proses kurasi ketat dari total 180 UMKM binaan BI di seluruh Indonesia.
“Kami membawa 20 UMKM terbaik hasil kurasi untuk mengikuti World of Coffee Bangkok,” ujarnya.
Maulisa menyebut sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman ekspor ke negara-negara Asia, Eropa hingga Amerika Serikat. Keikutsertaan Indonesia di ajang tersebut diharapkan membuka akses pasar baru karena buyer yang hadir berasal dari berbagai negara.
“Harapannya buyer dari seluruh negara bisa mengenal cita rasa dan keunikan kopi Indonesia,” katanya.
Senada dengan itu, Duta Besar RI untuk Thailand, Hari Prabowo menilai Thailand menjadi pasar strategis bagi kopi Indonesia seiring meningkatnya konsumsi kopi masyarakat setempat.
Menurut Hari, konsumsi kopi masyarakat Thailand meningkat dari sekitar 180 cangkir per orang per tahun menjadi 340 cangkir per orang per tahun. Sementara produksi kopi Thailand hanya sekitar 15.600 ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai lebih dari 90 ribu ton per tahun.
Selain itu, Thailand juga menjadi pusat kunjungan wisatawan internasional dengan jumlah wisatawan asing mencapai lebih dari 32 juta orang per tahun.
“Membawa kopi Indonesia ke Thailand sama dengan membawa kopi Indonesia ke seluruh dunia karena banyaknya wisatawan asing yang datang ke Thailand,” ujarnya.

