SURABAYAONLINE.CO-Pesawat Boeing 737-500, sama seperti yang dioperasikan Sriwijaya Air, ternyata pernah mengalami empat kecelakaan di berbagai belahan dunia, yaitu Rusia, Tunisia dan Mesir. Kecelakaan terfatal terjadi di Perm, Rusia, pada tahun 2008 yang menelan korban tewas sebanyak 88 orang.
Pesawat Boeing 737-500 yang dioperasikan oleh Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1), sekitar empat menit setelah lepas landas. Pesawat tersebut membawa 62 orang di dalamnya.
Reuters melaporkan pesawat yang jatuh itu berusia hampir 27 tahun. Pesawat komersial biasanya dapat terbang hingga 25 tahun sebelum dipensiunkan, tetapi sengaja dirancang untuk dapat bertahan lebih lama.
Boeing 737-500 adalah bagian dari keluarga 737, seri pesawat komersial yang paling banyak terbang di dunia. Pada awalnya, pesawat model ini dikembangkan pada 1960-an untuk melayani rute jarak pendek atau menengah. Boeing 737-500 mulai beroperasi pada tahun 1990, tetapi jenis tersebut sebagian besar telah dipensiunkan karena adanya Boeing jenis baru yang lebih hemat bahan bakar.
Upaya SAR
Sementara itu, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Callistasia Wijaya, di JICT 2, barang-barang yang ditemukan tim penyelam TNI AL telah diserahkan kepada Basarnas.
Mayor Nurochim, selaku Komandan KRI Kurau, mengatakan barang-barang itu antara lain berupa celana anak berwarna pink serta beberapa serpihan badan pesawat.
Tim SAR gabungan juga sudah menyerahkan sejumlah barang diduga bagian tubuh penumpang maupun pesawat Sriwijaya Air SJ-182 kepada polisi.
“Sampai dengan subuh tadi, ada dua kantong yang sudah kami terima. Kantong pertama berisi properti penumpang. Satu kantong berisi body part (bagian tubuh). Ini yang sedang kami identifikasi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus, di JICT, Jakarta, Minggu (10/01).
Semua kantong ini telah dilabeli di JICT lalu dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi.
Pesawat komersial Sriwijaya Air tipe Boeing 737-500 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak sekitar pukul 14.40 WIB, Sabtu (09/01). Pesawat itu diperkirakan jatuh di sekitar perairan Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Laut Jawa.
Pihak berwenang langsung melakukan pencarian dan pada Sabtu malam TNI AL menyatakan sudah menemukan titik koordinatnya. Sedikitnya 10 Kapal Republik Indonesia (KRI ) dikerahkan ke lokasi.
Lewat tengah malam pada Minggu (10/01), tim Basarnas membawa sejumlah temuan yang diduga berasal dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ke posko di dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta.
Pengambilan Sampel DNA
Sejauh ini, baru 10 keluarga yang diambil contoh DNA dan mencatatkan data antemortem ke Posko Crisis Center, di Graha Chandra Disti Wiradi, Bandara Supadio Pontianak.
“Kami mengerahkan 51 personel untuk bersiaga di posko. Selain itu Polda Kalbar juga mengerahkan personel dari tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mengambil contoh DNA dari keluarga inti,” papar Ajun Komisaris Besar Polisi Yani Permana, sebagaimana dilaporkan wartawan di Pontianak, Widianingsih, untuk BBC News Indonesia.
Pengambilan sampel ini dimungkinkan memakan waktu lebih dari dua hari, mengingat ada keluarga penumpang yang berasal dari luar Kota Pontianak.
Kepala Sub Direktorat Kedokteran Polisi Biddokkes Polda Kalbar, Ajun Komisaris Besar Polisi drg Joseph Ginting menambahkan, pengambilan sampel ini untuk antisipasi pencocokan dengan data penumpang Sriwijaya SJ182.
“Kita ambil contoh DNA dari darah dan cairan hidung. Setelah terkumpul, ‘sample’ DNA ini akan kita kirim ke Puslabfor Mabes Polri,” katanya.
Tim DVI Polda Kalbar khusus menangani contoh DNA dari keluarga inti penumpang yang berdomisili di Kalbar saja. Untuk penumpang yang bukan warga Kalimantan Barat, ditangani oleh Mabes Polri.(bbc/voa/*)


