SURON.CO, Probolinggo – Sebanyak 25 karang taruna (Kartar) yang tergabung dalam Heppiii Community di wilayah Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan menggelar studi banding. Mereka mempelajari pengelolaan UMKM dan pariwisata desa ke Madiun dan Magetan. Kegiatan ini dilakuan pada Sabtu-Minggu (4-5/3) lalu.
Koordinator Karta di Probolinggo Dwi Haryantoro mengatakan, studi banding ini dilakukan seiring dengan berkembangnya UMKM yang dikelola oleh kartar di Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang.
Dwi mencontohkan di sejumlah kartar, seperti Brumbungan Lor yang mulai intensif ternak lele. Kemudian kartar di Kelurahan Pilang dengan kopi mangrove dan wisata pantai.
“Daerah lain seperti di Pasuruan dan Lumajang UMKM dan wisata desanya juga terus berkembang. Karena itu, kami kolaborasi dari berbagai kartar untuk belajar bagaimana mengelola UMKM dan wisata desa di Madiun dan Magetan,” kata Dwi, dalam keterangannya, Rabu (8/3).
Kartar Baleasri Magetan yang menjadi salah satu tujuan studi banding ini memiliki banyak unit usaha. Seperti kerajinan bambu, sentra peternakan kelinci, juga cacing yang sudah banyak dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.
“Kami belajar bagaimana produksi, kemudian alur pengiriman barang. Termasuk marketing dan promosi. Kemudian bagaimana pelibatan warga sekitar kartar. Mereka juga punya studio podcast untuk warga desa,” imbuh pria yang biasa disapa Cak Wari ini.
Harapannya dengan adanya kegiatan ini, kartar Heppiii Community di Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan bisa menerapkan ilmu yang didapat selama dua hari di Madiun dan Magetan. Pihaknya juga saling berbagi informasi mengenai berbagai kegiatan yang sudah dilakukan oleh kartar-kartar di tiga daerah tapal kuda itu.
Usai studi banding ini, pihaknya juga rutin melakukan pemantauan dan perkembangan pengelolaan UMKM dan wisata desa. Kolaborasi antardaerah yang tergabung dalam Heppiii Community akan terus berkesinambungan. Tujuaannya agar kartar bisa mandiri dan memberikan manfaat untuk warga desa bisa terealisasi.
“Kemarin dari Probolinggo ada 11 kartar, kemudian Pasuruan ada tujuh kartar, Lumajang ada tujuh kartar. Tiap kartar diwakili masing-masing sampai enam orang yang belajar. Harapannya ilmu yang sudah didapat juga bisa ditularkan ke warga desa lainnya,” ungkapnya.(*)

