SURON.CO, Kediri – Pasangan suami istri, Guncono dan Sri Wahyuni, membuat terobosan baru dalam industri pengolahan gula jawa. Inovasi warga Sesa Nambaan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu, berhasil membuat gula jawa menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi.
Sebagai UMKM yang mengawali usaha sejak tahun 2014, keduanya memproduksi gula jawa yang diolah menjadi bentuk kecil-kecil berdiameter 4 centimeter dengan tinggi 3 centimeter. Uniknya, gula jawa tersebut memiliki varian rasa jahe dan cengkeh.
Usaha ini berawal dari banyaknya gula jawa yang sudah meleleh di rumahnya. Maklum saja, Guncono dan Sri Wahyuni bekerja sebagai agen gula jawa.
Melihat banyaknya bahan yang terbuang sia-sia, keduanya memutuskan untuk mengolah kembali gula jawa tersebut menjadi varian baru, dengan ukuran yang kecil dan praktis.
Sri Wahyuni mengatakan, gula jawa varian rempah jahe dan cengkeh ini sangat diminati konsumen, khususnya kalangan jemaah umrah. Apalagi, cara penyajiannya sangat sederhana dan memiliki khasiat untuk menghangatkan tubuh.
“Jadi awalnya ada pelanggan kami yang mempunyai usaha travel, memesan gula jawa dengan rasa jahe, untuk diberikan kepada jemaah umrah. Selanjutnya, kami membuat dan mengolah gula jawa varian rasa jahe. Ternyata, varian rasa jahe sangat diminati,” kata Sri Wahyuni.
Menurut Sri Wahyuni, dalam sebulan penjualan untuk gula jawa varian rasa jahe bisa menghabiskan 30-50 kilogram. “Sedangkan untuk gula jawa tradisional, dalam sebulan bisa mencapai 5-9 ton,” terangnya.
Menyoal pemasaran, gula jawa varian rempah jahe dan cengkeh ini tersebar hingga seluruh daerah di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. “Bahkan, ada TKI dari Jepang yang juga memesan,” tandasnya.
Adapun harga jualnya sangat terjangkau. Varian jahe 1 kotak berisi 8 butir dijual dengan harga Rp 15.000, sedangkan untuk original satu kotak dijual Rp 7.500. “Mayoritas pemasaran olahan gula jawa ini untuk usaha kuliner dawet, jenang jawa serta olahan makanan dan minuman,” pungkas Sri Wahyuni.(*)

