SURON.CO, Surabaya – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya tengah melakukan pengembangan pada sejumlah fitur pasar digital e-Peken. Hal ini demi meningkatkan jumlah catatan omzet pada setiap pedagang yang membuka toko di aplikasi tersebut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya M Fikser mengatakan omzet pedagang e-Peken pada Mei 2023 mengalami penurunan. “Menurun, karena ASN ada yang pensiun, pindah tugas, agak menurun namun tidak signifikan,” kata Fikser.
Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya, catatan omzet pada bulan Maret 2023 sebesar Rp 6.112.503.227. Jumlah itu turun pada bulan April 2023 menjadi Rp 5.419.332.758 dan di bulan Mei 2023 sebesar Rp 4.815.713.772.
Sedangkan total keseluruhan omzet pada tahun 2021 sebesar Rp 5.022.315.204, kemudian pada tahun 2022 omzet meningkat sebesar Rp 45.126.667.837, dan pada tahun 2023 hingga data bulan Mei 2023 baru mencapai Rp 27.786.638.401.
Sejauh ini, total terdapat 1.105 toko kelontong, 219 pedagang sentra wisata kuliner, dan 3.360 pelaku usaha UMKM yang memanfaatkan e-Peken untuk berdagang.
Kemudian, untuk pengguna kategori aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota Surabaya total mencapai 12.752 pengguna, dengan rincian 5.975 pengguna aktif dan 6.777 pengguna aktif. Kategori masyarakat atau umum sebesar 7.901 pengguna, rinciannya 5.992 pengguna aktif dan 1.909 pengguna non aktif.
Melihat data tersebut, Fikser mengatakan bahwa e-Peken memang sudah digunakan oleh masyarakat namun masih didominasi kategori ASN. “Kalau masyarakat sudah bisa pakai tetapi belum familiar, kami belum gencar ke warga seperti e-commerce pada umumnya. Kami juga masih pengembangan sistemnya,” ujarnya.
Oleh karenanya, Fikser menyebut sejumlah pengembangan yang dilakukan salah satunya berfokus pada upaya promosi penggunaan aplikasi kepada masyarakat. Pengembangan mencakup sistem aplikasi hingga mekanisme pembelian barang.(*)

