SURON.CO, Malang – Terpilih menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan pembekalan keterampilan wirausaha, UMKM Dapur Tio menularkan ilmu berbisnis kepada calon pensiunan aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Malang.
Dalam kesempatan yang berharga, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) melalui Dapur Tio memberikan pembekalan kewirausahaan bagi calon pensiunan ASN Pemkot Malang. Hal tersebut dilakukan guna menggali dan tetap menjaga jiwa produktif pensiunan ASN pasca masa purna tugasnya.
Owner Dapur Tio, Roro Hening, mengatakan, menceritakan latar belakang berdirinya Dapur Tio hingga saat ini. Mulai dari suka duka bergelut di dunia UMKM. Hingga pada akhirnya menjadi Dapur Tio yang mulai dikenal masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan untuk memantik semangat para calon pensiunan untuk tetap berkarya pasca masa tugasnya berakhir di pemerintahan. “Kita berikan wawasan, semangat dan dorongan, agar setelah purna tugas bisa tetap aktif mempunyai kegiatan positif dan diarahkan ke wirausaha itu tadi,” terang Roro.
Tak hanya memberikan materi, ia juga membagikan ilmu mengenai kepengurusan legalitas maupun perizinan yang perlu dikantongi sebagai pelaku UMKM.
“Kami juga sharing tentang fasilitas perizinkan dari Disperindag Kota Malang. Karena banyak sekali keuntungan menjadi binaan Pemkot Malang. Salah satunya mempermudah untuk mengakses perizinan yang dibutuhkan bagi UMKM,” tuturnya.
Sebagai UMKM yang memiliki produk olahan sambal, dalam kesempatan yang sama Roro juga membagikan tips dan trik untuk membuat sambal dengan kualitas dan rasa yang terbaik. Mulai dari pemilihan bahan hingga cara mengolahnya.
Bahkan, tak tanggung-tanggung wanita yang juga berprofesi sebagai karyawan swasta ini membagikan resep sambel Dapur Tio kepada peserta pelatihan secara cuma-cuma.
“Ketika saya ditanya apa tidak takut ada kompertitor? Saya hanya berpikir semua rizki sudah ada yang mengatur. Karena yang terpenting menurut saya adalah branding. Tapi kualitas juga harus tetap dijaga,” jelasnya.
Sebab, menurut Roro dengan branding produk maka hal tersebut juga akan memperluas pasarnya. Sehingga produk miliknya akan lebih dikenal oleh masyarakat luas. “Seperti Bu Rudi, dulu beliau hanya menjual sambal, tetapi sekarang ? Dia memiliki rekan-rekan UMKM yang digandeng karena dia memiliki branding,” ungkapnya.
“Harapan saya Dapur Tio bisa memiliki branding sendiri, sehingga jika orang menyebut Dapur Tio yang tertanam dibenak hanya sambal. Tentunya kualitas juga tetap harus dijaga,” bebernya.
Tak hanya menyediakan pelatihan dan menularkan ilmu mengolah sambal, Dapur Tio juga membuka kesempatan untuk para peserta yang ingin mendalami bisnis sambal lebih luas.
“Saya juga membuka sesi konsultasi gratis. Bisa datang ke rumah produksi kami. Kami akan memberikan ilmu terkait dengan perizinan, legalitas dan cara memasak sambal bagi para peserta,” ucapnya.(*)

