SURON.CO, Surabaya – Para pelaku UMKM di Surabaya mengeluhkan aplikasi e-Peken yang kurang diminati. Padahal, diharapkan dengan adanya aplikasi ini produk UMKM bisa bertambah dan usahanya berkembang.
Salah satu pengguna e-Peken UMKM Batik Jumput, Ida Susilowati bercerita, dalam kurun 6 bulan terakhir penggunaan e-Peken, ia hanya mendapatkan pesanan dari kelurahan saja. Untuk pemesanan biasa lebih banyak datang dari mulut ke mulut. “Kadang-kadang orang awam pakai ini (e-Peken). Yang pakai QRIS juga biasanya kalangan atas,” ungkap Ida Susilowati.
Ida mengaku telah 10 tahun lebih memproduksi batik di kediamannya, Jalan Karangrejo X No.32, Wonokromo. Ia mengaku produknya telah dikenal. Bahkan sampai OPD sejak zaman kepemimpinan Tri Rismaharini.
Namun, hingga kini, akun e-Peken yang telah diunduhnya setahun ke belakang, belum menunjukkan kenaikan yang signifikan dari kalangan umum. Jika tidak ada pesanan dari pihak Kelurahan Wonokromo, e-Pekennya sepi. Seperti mati tak ada pesanan.
“Kita nggak tahu, produk kita dilihat. Umpamanya produk ini yang lihat 10 orang, berarti ada yang ngeklik. Untuk daya bersaing kan enak. Kalau kayak gini nggak bisa untuk daya bersaing,” kritiknya mengenai fitur e-Peken yang tak bisa dilihat berapa jumlah penonton produknya.
Sebagai pelaku UMKM ia menyarankan, di dalam e-Peken ada fitur untuk jumlah penonton produk, tombol suka pada produk, komentar untuk yang tidak menyukai, dan yang terpenting adalah ulasan produk berupa bintang atau komentar dari orang-orang yang telah membeli produknya.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya Luthfiyah mengungkapkan, UMKM diminta untuk lebih meningkatkan kualitas produknya agar e-Peken dapat digunakan secara efektif.
“Pemerintah kota ini kan cuma membantu, memotivasi, agar UMKM itu berkembang, maju, dan perekonomian akan sukses di Surabaya. Termasuk pakai online melalui e-Peken. Bagaimana caranya bisa laris? Ya harus ada kreativitas mereka juga,” ungkap Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya Luthfiyah.(*)

