Minke.id – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) disabilitas di Kota Madiun mulai menunjukkan geliat yang menjanjikan. Melalui Kelompok Usaha Bersama Disabilitas atau disingkat Kubis, para penyandang disabilitas kini mampu menghasilkan produk unggulan, salah satunya Kue Kering Merdeka.
Produk ini bukan sekadar camilan biasa, melainkan simbol kemandirian dan keberdayaan. Nama “Merdeka” sendiri merupakan akronim dari Mandiri dan Berdikari, mencerminkan semangat pelaku UMKM disabilitas untuk tidak bergantung pada orang lain.
“Pembuatan kue kering ini awalnya dilakukan sendiri-sendiri. Sekarang sudah mulai diproduksi bersama melalui Kubis,” ujar Herlin Susilowati, Ketua UMKM Disabilitas Kreatif dan Tangguh Kota Madiun, Selasa (8/7/2025).
Kegiatan produksi ini tak lepas dari dukungan program PLN Peduli yang memberikan pelatihan serta bantuan bahan baku. Selain kue kering, para pelaku UMKM disabilitas juga mulai mengembangkan produk telur asin.
Hingga saat ini, sebanyak 30 toples Kue Kering Merdeka telah diproduksi. Jumlah itu akan ditingkatkan jika permintaan pasar terus tumbuh.
“Kalau peluang pemasarannya bagus, tentu akan kami tingkatkan produksinya. Harapannya bisa menjalin kerja sama dengan berbagai pihak,” tambah Herlin.
Salah satu pihak yang memberikan dukungan nyata adalah Hipmikindo DPD Kota Madiun. Lembaga ini terlibat aktif dalam pendampingan dan strategi pemasaran, termasuk membuka akses ke jaringan toko oleh-oleh dan ritel modern.
“Kami bantu pemasaran dan pendampingan. Tapi untuk masuk ke toko ritel, produk harus memiliki sertifikat PIRT terlebih dulu. Itu yang sedang kami bantu urus,” jelas Wisang Wijaya, Ketua Hipmikindo DPD Kota Madiun.
Kehadiran Kubis menjadi harapan baru bagi penyandang disabilitas untuk bisa eksis di dunia usaha. Kue Kering Merdeka dinilai memiliki potensi besar menjadi produk andalan UMKM Kota Madiun, sekaligus membuka peluang inklusi ekonomi yang lebih luas.
Dengan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari BUMN hingga organisasi UMKM, pelaku UMKM disabilitas kini memiliki ruang untuk berkembang dan berdaya saing.
“Kami ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan hambatan untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi,” tutup Herlin.

