Minke.id – Perhelatan akbar Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025 yang berlangsung pada 11–13 Juli 2025 memberikan dampak positif yang luar biasa bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Banyuwangi dan sekitarnya. Selama tiga hari penyelenggaraan, total omzet UMKM yang membuka stan di Taman Blambangan tercatat mencapai Rp 1,17 miliar.
Peningkatan omzet ini menunjukkan lonjakan sebesar 300 persen dibandingkan dengan gelaran BEC tahun sebelumnya. Sebanyak 500 UMKM dari wilayah eks Karesidenan Besuki (Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso) serta Lumajang, yang tergabung dalam wadah Sekarkijang, turut ambil bagian dalam ajang tahunan bergengsi ini.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Gunawan, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. “Ini sebuah prestasi yang membanggakan. Lonjakan omzet ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dan meningkatnya kualitas produk UMKM,” ujarnya.
Menurut Gunawan, keberhasilan ini merupakan hasil dari kombinasi sinergi antara Sekarkijang Creative Fest (SFC) dan BEC 2025, yang berhasil menarik ribuan pengunjung untuk berbelanja langsung produk-produk lokal.
Salah satu UMKM dengan capaian omzet tertinggi adalah stan Doa Coffee, yang sukses meraup omzet hingga Rp 853,63 juta. Capaian ini mempertegas potensi besar sektor makanan dan minuman dalam pengembangan UMKM di Banyuwangi.
“Banyak pelaku UMKM yang berhasil menjual habis produknya. Ini berdampak langsung pada pendapatan mereka dan tentunya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” imbuh Gunawan.
Ia pun berharap keberhasilan Banyuwangi Ethno Carnival 2025 menjadi inspirasi bagi lebih banyak pelaku usaha lokal untuk terus berkembang. Selain itu, Gunawan juga menekankan pentingnya menjaga momentum ini agar dapat terus memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.
“Kami berharap pada BEC 2026, jumlah UMKM yang terlibat bisa lebih banyak lagi, dengan omzet yang meningkat dan pengunjung yang semakin antusias. Ini bukti nyata bahwa event budaya bisa menjadi penggerak ekonomi daerah,” pungkasnya.

