Minke.id – Anak muda Blitar kembali membuktikan bahwa kreativitas dan teknologi bisa lahir dari keresahan sederhana. Adalah Achmad Faisal Lazuardian, pemuda asal Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, yang sukses menciptakan Blitara, sebuah aplikasi chatbot berbasis AI yang terintegrasi dengan WhatsApp, khusus untuk membantu pelaku UMKM.
Inspirasi Blitara bermula dari pengalaman pribadi Faisal saat menjalankan bisnis dan kesulitan menjawab pertanyaan dari pelanggan. Bahkan ketika mencoba menyewa chatbot, hasilnya malah terlalu kompleks dan tidak ramah pengguna.
“Waktu itu saya coba sewa chatbot, ternyata ribet. Akhirnya saya buat sendiri,” ungkap Faisal, yang juga berprofesi sebagai konsultan IT.
Faisal mengenang saat dirinya bekerja di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Blitar pada 2022–2023. Saat itu, ia kerap mengalami kesulitan mencari Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) untuk jenis usaha yang tidak umum. Proses pencarian yang lambat—bahkan bisa sampai 15 menit—mendorongnya mencari solusi berbasis teknologi.
“AI sudah ada waktu itu, tapi aplikasinya belum praktis,” tuturnya.
Setelah keluar dari dinas, Faisal mulai merancang Blitara. Hanya dalam waktu satu bulan, aplikasi chatbot ini pun lahir, dengan fitur-fitur yang sangat dibutuhkan pelaku usaha mikro.
Blitara diciptakan untuk menjawab kebutuhan dasar pelaku UMKM digital: mulai dari pembuatan artikel produk, menjawab pertanyaan pelanggan, hingga pengeditan foto produk.
“Banyak pelaku UMKM fotonya masih kurang menarik. Kami tambahkan fitur edit foto otomatis dengan template siap pakai,” jelas Faisal.
Selain Blitara, dia juga mengembangkan Rara AI, aplikasi khusus untuk pengeditan gambar. Prosesnya sangat sederhana—cukup kirim foto dan sedikit informasi lewat WhatsApp, lalu sistem akan bekerja otomatis. Jika informasi kurang, AI akan menanyakan sendiri.
Yang lebih mengesankan, modal awal pengembangan Blitara tidak sampai Rp 1 juta.
“AI itu berbasis API, jadi bisa top up sesuai kebutuhan. Satu pertanyaan kurang dari seratus rupiah, edit foto cuma Rp 250 perak,” katanya bangga.
Dengan sistem yang mudah diakses dan biaya operasional super efisien, Blitara kini terus dikembangkan bersama tim muda Blitar. Fokus utama mereka adalah membuat teknologi AI lokal ini bisa digunakan oleh semua kalangan, terutama UMKM daerah yang ingin naik kelas secara digital.

