Minke.id — ruang publik di pusat kota Lamongan kembali menjadi panggung hidup bagi pelaku UMKM kuliner tradisional. Di bawah rindang pepohonan, gerobak-gerobak sederhana berjajar menawarkan jajanan yang akrab di lidah warga. Aroma wedang rempah, kopi ketan, dan jajanan kukus berpadu dengan ramainya perbincangan pengunjung yang singgah.
Salah satu lapak yang menarik perhatian adalah gerobak bertuliskan “Spesial Bentoel”, yang menawarkan menu berbahan singkong dengan tagline “Bahanaman Jadul Bikin Mantulll”. Tepat di sampingnya, Angkringan Metal Jowo menghadirkan menu khas seperti kopi ketan, polopendhem, wedang rempah, hingga es caola.
Hadirnya spanduk PELITA UMKM Lamongan menandakan bahwa geliat kuliner ini bukan sekadar aktivitas harian, tetapi bagian dari program pembinaan UMKM lokal Lamongan.
Pengelola angkringan, Ade R, mengaku bersyukur ruang publik ini tetap menjadi tempat bertemunya warga dan pembeli.
“Yang penting kita bisa jualan dengan tertib, nggak ganggu jalan, dan pembeli nyaman. Rezeki itu ikut suasana. Kalau tempatnya ramai dan aman, pedagang kecil kayak kami bisa hidup,” ujar Ade.
Meski berada dekat rambu larangan parkir, aktivitas berlangsung tertib. Pengunjung duduk santai di tepian, menikmati jajanan tradisional tanpa mengganggu arus pejalan kaki. Suasana yang tercipta bukan hanya transaksi jual beli, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan warga, pedagang, dan komunitas.
Geliat ini menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan di Lamongan terus hidup. Dengan modal kecil, resep warisan dapur rumahan, dan lokasi strategis, UMKM kuliner tradisional Lamongan memberi warna pada ruang kota sekaligus menjaga tradisi rasa yang tak lekang oleh waktu.
Kehadiran gerobak-gerobak ini menunjukkan bahwa kuliner UMKM tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi magnet sosial bagi warga Lamongan.

