Minke.id – Batik canting Bojonegoro terus menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya bernilai tinggi. Melalui tangan-tangan terampil perajin lokal, batik tulis dengan motif khas daerah kini semakin diminati masyarakat.
Batik canting merujuk pada teknik membatik tradisional menggunakan alat bernama canting, yakni alat bergagang bambu dengan ujung tembaga kecil untuk menorehkan cairan malam panas ke atas kain. Teknik ini menghasilkan batik tulis dengan motif detail dan bernilai seni tinggi, sekaligus menjadi inti dari proses membatik tradisional Indonesia.
Dalam proses membatik, terdapat tahapan penting seperti nglowong, yakni menggambar pola dengan malam, serta ngiseni, yaitu mengisi motif agar terlihat hidup dan kaya makna. Proses inilah yang kemudian melahirkan keindahan Batik Canting, sebutan yang kini akrab di kalangan pecinta batik.
Salah satu sosok yang konsisten melestarikan batik canting khas Bojonegoro adalah Tri Astutik, Ketua Kelompok Batik Sekar Rinambat asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Dalam kegiatan Lomba Desain Motif Batik Bunga Bojonegoro yang digelar DPC IWAPI Bojonegoro, Kamis (18/12/2025) di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro, Tri Astutik diundang untuk mengisi galeri dengan karya-karya batiknya.
Tak hanya memamerkan hasil karya, perempuan yang akrab disapa Tutik ini juga memperagakan secara langsung proses nyanting, sehingga pengunjung dapat melihat dari dekat proses pembuatan batik tulis Bojonegoro.
Tutik merupakan perajin batik binaan Pertamina EP Cepu (PEPC) dan ADEMOS sejak tahun 2016. Sekitar lima bulan terakhir, ia juga aktif bergabung dengan DPC Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Bojonegoro untuk memperluas jejaring pemasaran dan promosi batik lokal.
Dijumpai di sela kegiatan lomba, Tutik mengungkapkan bahwa motif terbaru yang saat ini diproduksinya adalah Agni Amerta dan Sewu Sendang. Selain itu, terdapat pula motif Mliwis Putih, Wonocolo, dan Waduk Pacal.
“Semua motif batik ini menggambarkan kekhasan Kabupaten Bojonegoro dan keindahan alam maupun budayanya,” jelas Tutik.
Harga kain batik Bojonegoro bervariasi, tergantung jenis kain dan teknik pembuatannya. Untuk batik cap, harga berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara batik tulis canting dibanderol mulai Rp 300 ribu, bahkan bisa mencapai Rp 1 juta untuk kain dengan full motif.
“Batik cap masih menjadi pilihan mayoritas karena harganya terjangkau dan mudah diterima pasar. Rata-rata peminat mencari batik di kisaran harga Rp 150 ribu sampai Rp 160 ribu,” ungkapnya.
Melalui keikutsertaannya dalam berbagai pameran dan kegiatan budaya, Tri Astutik berharap peminat batik canting Bojonegoro semakin meluas. Ia juga ingin mengajak masyarakat untuk bangga mengenakan produk asli Indonesia, khususnya batik karya perajin lokal Bojonegoro.

