iniSO.co – Kampung Coklat Blitar bersiap menjadi tuan rumah rangkaian pameran dalam rangka menyambut Seabad Nahdlatul Ulama (NU) 2026. Kegiatan yang digelar pada 5–7 Februari 2026 ini akan menghadirkan pameran UMKM, industri halal, filantropi, kesehatan, dan pertanian sebagai langkah nyata memperkuat ekonomi umat berbasis kolaborasi lintas sektor.
Pameran Seabad NU di Kampung Coklat ini akan melibatkan pelaku usaha dari berbagai daerah dengan penekanan pada produk yang selaras dengan prinsip kehalalan serta nilai-nilai NU. UMKM menjadi pilar utama melalui partisipasi pengusaha muda dan masyarakat lokal yang telah mengikuti program peningkatan kapasitas usaha.
Sektor industri halal akan menampilkan inovasi produk yang memenuhi standar keamanan dan syariah. Komitmen kualitas ditunjukkan Kampung Coklat melalui proses produksi tanpa bahan pengawet maupun pewarna buatan.
Selain itu, sektor filantropi dan kesehatan turut dihadirkan melalui program pemberdayaan masyarakat serta produk berbasis bahan alami, termasuk potensi manfaat cokelat lokal bagi kesehatan.
Di sektor pertanian, pameran menampilkan hasil unggulan kelompok tani, terutama biji kakao berkualitas tinggi sebagai bahan baku utama produk cokelat. Proses pengolahan kakao dilakukan secara tradisional namun berstandar ketat, mulai dari panen, fermentasi, hingga pengemasan.
Model ini diharapkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi petani lain dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Penutupan pameran ditargetkan menghasilkan berbagai kerja sama antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Kampung Coklat juga merencanakan pengembangan kawasan hingga lima hektare, pendirian pusat pelatihan nasional petani kakao, serta perluasan jaringan ekspor ke Asia Tenggara.
“Kesuksesan tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi dari seberapa banyak orang yang dapat kita bantu untuk meningkatkan taraf hidupnya,” ujar Kholid Mustofa, Presiden Direktur PT Kampung Coklat.
Kampung Coklat, Ikon Edukasi dan Ekonomi Desa Blitar
Dikenal sebagai ikon wisata edukasi kakao di Blitar, Kampung Coklat lahir dari gerakan pemberdayaan masyarakat desa. Kawasan ini didirikan pada 2014 oleh H. Kholid Mustofa yang berangkat dari kelompok tani Guyub Santoso sejak 2005.
Perjalanan usaha yang penuh tantangan, termasuk kegagalan di sektor peternakan akibat flu burung, menjadi fondasi kuat membangun ekosistem kakao mandiri dan berkelanjutan.
Dengan tiket masuk Rp20.000 dan produk cokelat mulai Rp15.000, Kampung Coklat tetap menjaga keterjangkauan bagi masyarakat. Seluruh produk dikemas ramah lingkungan dan mencantumkan nama kelompok tani sebagai bentuk apresiasi.
Saat ini kawasan berdiri di lahan sekitar dua hektare, mencakup perkebunan organik, pabrik pengolahan, galeri produk, hingga wahana rekreasi. Konsep agrowisata berbasis kakao ini terbukti menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus sarana edukasi pertanian.
Melalui program “Kampung Coklat untuk Anak Negeri”, kawasan ini juga membuka akses pendidikan dan pelatihan bagi siswa, guru, serta petani dari berbagai daerah.
Pameran menyambut Seabad NU 2026 di Kampung Coklat bukan sekadar ajang promosi produk, tetapi ruang berbagi praktik baik, semangat gotong royong, dan inspirasi penguatan ekonomi desa Indonesia.

