iniSO.co – Pemerintah Desa Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri kembali menggelar Jamboren 2026 dengan konsep Pasar Panen Raya Durian dan Bazar UMKM. Event ini menjadi upaya strategis untuk memperkenalkan hasil bumi desa sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Ketua Panitia Jamboren 2026, Gunawan, menyampaikan bahwa meski digelar lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya, kegiatan ini tetap membawa misi besar dalam mempromosikan potensi Desa Kebonrejo ke masyarakat luas.
“Tema besarnya tetap jamboren, yaitu memperkenalkan hasil bumi yang ada di Desa Kebonrejo kepada masyarakat luas, terutama di Kabupaten Kediri dan umumnya ke seluruh Indonesia,” ujar Gunawan, Minggu (15/2/2026).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan Jamboren 2026 disesuaikan dengan kondisi anggaran desa. Namun, fokus utama tetap diarahkan pada dampak ekonomi langsung bagi warga, khususnya pelaku UMKM yang baru tumbuh dalam tiga tahun terakhir.
“UMKM di sini masih relatif baru. Maka kami fokus ke penguatan UMKM karena Kebonrejo memang sentra produksi durian dan hasil bumi lainnya,” jelasnya.
Sebanyak 20 RT dilibatkan dalam event ini, bahkan beberapa RT menghadirkan dua pelaku UMKM sekaligus. Beragam produk ditampilkan, mulai dari olahan hasil bumi, kuliner khas desa, hingga durian segar dari kebun warga.
Secara geografis, Desa Kebonrejo memiliki keunggulan alam berupa dataran tinggi dengan tanah subur yang sangat cocok untuk budidaya durian. Hamparan kebun durian membentang dari pintu masuk desa hingga lereng Gunung Kelud, dengan jumlah pohon mencapai ribuan.
Gunawan menyebut sedikitnya terdapat 14 varietas durian lokal yang telah teridentifikasi. Selain itu, warga juga mulai membudidayakan varietas unggulan bernilai ekonomi tinggi seperti Bawor, Musang King, Duri Hitam, dan Montong.
“Produksi masih didominasi durian lokal, tapi masyarakat sudah kami edukasi bahwa varietas unggul punya nilai ekonomi lebih tinggi. Meski begitu, kualitas durian lokal Kebonrejo juga tidak kalah,” terangnya.
Salah satu pelaku UMKM durian, Delima, mengungkapkan durian Kebonrejo memiliki karakter rasa khas yang kuat.
“Menurut pembeli, rasanya lebih pekat, manis pahitnya kuat. Kalau kata Gen Z, duriannya ‘durian banget’,” ungkapnya sambil tersenyum.
Event Jamboren juga mendapat sambutan positif dari pengunjung. Firman (25), salah satu pecinta durian, menilai acara ini memudahkan pengunjung menemukan berbagai jenis durian dalam satu lokasi.
“Acaranya bagus, buat penikmat durian jadi gampang cari jenis durian di sini,” katanya.
Ia berharap Jamboren dapat digelar rutin setiap tahun sebagai agenda khas desa. “Semoga bisa ada setiap tahunnya,” imbuhnya.
Berbagai jenis durian dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp10.000 hingga Rp100.000, tergantung jenis dan ukuran. Jamboren 2026 berlangsung selama dua hari dengan puncak acara pada Minggu, 15 Februari 2026.
Pemerintah desa berharap Jamboren tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga sarana promosi wisata dan penggerak ekonomi lokal.
“Harapan kami, Desa Kebonrejo semakin dikenal luas dan kegiatan ini benar-benar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” pungkas Gunawan.

