iniSO.co – Momentum Lebaran 2026 membawa berkah besar bagi UMKM keripik tempe sagu di Dusun Kedawung, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan. Permintaan yang melonjak tajam membuat aktivitas produksi nyaris tanpa henti, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan camilan khas untuk suguhan hari raya.
UMKM “Makmur” milik pasangan Hariyanto (53) dan Dewi Sulamah (55) mencatat lonjakan omzet signifikan menjelang hingga hari Lebaran, Selasa (24/3/2026). Jika pada hari biasa pendapatan hanya sekitar Rp1 juta per hari, kini meningkat drastis menjadi Rp3 hingga Rp5 juta per hari.
“Menjelang Lebaran kemarin pesanan meningkat cukup banyak, bisa dua sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Dewi Sulamah saat ditemui di lokasi produksi.
Produksi Meningkat, Permintaan Meluas
Usaha yang dirintis sejak 2018 tersebut awalnya berjalan dalam skala kecil dengan peralatan sederhana. Namun, seiring meningkatnya permintaan, UMKM keripik tempe sagu ini berhasil memperluas pasar hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur.
Proses produksi dilakukan secara tradisional, mulai dari mengiris tipis tempe, membalutnya dengan tepung sagu, hingga menggorengnya hingga renyah. Kapasitas produksi yang awalnya hanya sekitar 5 kilogram tempe per hari kini meningkat drastis, terutama saat momen Lebaran.
Pemasaran pun tidak lagi terbatas secara langsung, tetapi juga merambah platform daring yang membantu memperluas jangkauan konsumen.
Lonjakan produksi berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar. Saat permintaan meningkat, pemilik usaha melibatkan warga setempat untuk membantu proses produksi hingga pengemasan.
Hal ini memberikan efek ekonomi berganda bagi masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat peran UMKM keripik tempe sagu sebagai penggerak ekonomi lokal.
“Rasanya gurih dan renyah, cocok untuk suguhan tamu saat Lebaran. Saya sering beli dalam jumlah banyak,” ujar Sucipto (57), pelanggan setia.
Harga Terjangkau, Jadi Daya Tarik
Produk keripik tempe sagu “Makmur” dipasarkan dengan harga kompetitif, yakni Rp15.000 per kemasan seperempat kilogram dan Rp60.000 per kilogram. Kombinasi harga terjangkau dan cita rasa khas menjadi daya tarik utama bagi konsumen.
Meski demikian, pelaku usaha tetap menghadapi sejumlah tantangan, seperti fluktuasi harga bahan baku tempe dan minyak goreng, serta persaingan dengan produk serupa di pasaran.
Fenomena lonjakan omzet ini menegaskan pentingnya peran UMKM dalam menggerakkan ekonomi daerah, terutama saat momen hari besar keagamaan. Dengan inovasi pemasaran dan konsistensi kualitas, usaha kecil mampu bertahan bahkan berkembang di tengah persaingan.
Momentum Lebaran 2026 menjadi bukti nyata bahwa UMKM keripik tempe sagu tidak hanya sekadar usaha rumahan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

