SURON.CO, Jakarta – Ternyata masih sedikit UMKM yang saat ini masuk dalam rantai pasok (supply chain) industri. Setidaknya baru 18 persen yang sudah masuk dalam supply chain.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Organisasi Eko Sastra. Ia berharap semua UMKM bisa masuk rantai pasok industri sehingga bisa naik kelas. “Sehingga bisa berkompetisi dengan yang lain,” ucapnya.
Eka menjelaskan, UMKM punya kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Namun selama ini sektor tersebut dianggap sebagai sektor terpisah. Sehingga bantuan yang diberikan bersifat charity (amal). Padahal, untuk bisa mengembangkan dan mendorong bisa maju dan berkembang, UMKM perlu ikut terlibat dalam proses bisnis yang ada, yakni rantai pasok industri.
Untuk itu, keterlibatan UMKM perlu didukung dengan pembinaan dari industri yang lebih besar dan kebijakan pemerintah. Pengalaman beberapa negara seperti Korea atau Jepang, industri mobil mereka melibatkan ratusan UMKM.
“Ada yang menghasilkan ban, tempat duduk, sehingga UMKM ini terlibat dalam bisnis besar untuk menghasilkan mobil. Jadi ketika mobil terjual, otomatis UMKM mendapatkan keuntungan,” katanya.
Eka menyebut model kolaborasi serta dukungan dan pembinaan perusahaan besar terhadap UMKM kini mulai diterapkan di Indonesia. Harapannya, integrasi pengusaha besar dengan UMKM akan membuat bisa tumbuh berkembang sehingga terbangun struktur ekonomi yang solid.
Lebih lanjut, Eka menuturkan pihaknya juga terus mendorong pengusaha untuk bisa selalu melibatkan UMKM dalam proses bisnis. Ia menyebut umumnya pengusaha ingin mengerjakan seluruh proyek dari hulu ke hilir mulai dari inti bisnis hingga hal-hal remeh seperti katering dan binatu.
Hal itu pun terjadi tidak hanya di BUMN tetapi juga di industri swasta. “Masyarakat jangan hanya menjadi penonton. Kami dorong terus anggota sedapat mungkin melibatkan UMKM. Terutama UMKM yang ada di lokasi tersebut sehingga pertumbuhan yang ada bisa dinikmati semuanya,” imbuh Eka Sastra.(*)

