SURON.CO, Surabaya – Ada beragam jenis tas klasik berbahan kulit dan kain kanvas buatan Aditya Tanjung. Meski berdesain sederhana, seluruh produk tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan para pekerja, khususnya dewasa muda hingga tua. Produknya bernama Eastmovin. Merek bisnis yang saat ini dikembangkannya bersama tiga rekannya.
”Produk kami memang menyasar para pekerja. Namun, tidak tertutup kemungkinan remaja dan anak kuliah juga menggunakan produk kami,” katanya.
Ide bisnis itu bermula pada 2018. Aditya bersama timnya memang ingin membangun bisnis yang bertujuan membuka lapangan pekerjaan baru. Tas menjadi pilihan karena mereka memiliki passion di dunia tas. Apalagi, saat ini produk tas berkualitas premium kerap dikuasai brand-brand dari luar negeri.
”Saya pernah studi banding ke salah satu pabrik di Sidoarjo. Ternyata pabrik itu dipercaya memproduksi tas brand ternama luar negeri karena kualitas kulit sapi di Indonesia sangat bagus,” ungkapnya.
Dari situlah, Aditya berpikir untuk membuat produk tas sendiri dengan kualitas yang tidak kalah dari merek ternama lainnya. Dengan begitu, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk membeli tas berkualitas premium. ”Misalnya, belum sanggup beli tas merek luar negeri dengan harga mahal. Eastmovin bisa menjadi salah satu pilihan,” tutur dia.
Eastmovin adalah salah satu UMKM Surabaya yang memiliki potensi besar bersaing dengan pasar global. Meski terbilang masih bisnis baru, Eastmovin berhasil menunjukkan keseriusan dalam membuat produk-produk tas berkualitas premium.
”Nama Eastmovin berarti pergerakan dari timur. Indonesia sebagai negara Timur diharapkan bisa ekspor ke negara Barat,” ujar laki-laki 36 tahun tersebut.
Saat bisnis tas itu dimulai, lanjut dia, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Yakni, maklon di pabrik Cina dengan harga yang sangat murah atau produksi tas sendiri dengan risiko harga lebih mahal.
”Karena target kami pengin membuka lapangan pekerjaan baru, kami main produksi sendiri. Namun, produksinya tidak bisa sebesar impor,” jelas alumnus Prodi Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut.
Aditya mengungkapkan, seluruh produk tas yang diproduksi menggandeng para penjahit lokal dari Gresik dan Surabaya. Saat ini mereka telah mempekerjakan total 13 penjahit di dua workshop tersebut. Selain itu, Eastmovin kerap menjadi tempat magang mahasiswa maupun pelajar SMK.
”Kami berusaha memberdayakan para penjahit lokal. Mereka mendapatkan pelatihan khusus untuk bisa menghasilkan produk yang berkualitas,” ujarnya.
Sebanyak 90 persen produk Eastmovin menggunakan material lokal. Sisanya impor karena bahannya tidak ada di Indonesia. Material utama yang digunakan adalah kulit sapi asli dan kanvas.
Dua material itu dipadukan menjadi produk tas yang trendi, tetapi tetap tampil sederhana. Mulai pouch, backpack, travel bag, ID card, hingga lainnya yang sesuai dengan kebutuhan pekerja. ”Target pasar kami adalah kalangan menengah. Harga yang dijual di kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 1,2 juta,” jelas Aditya.
Produk Eastmovin sudah terjual di Indonesia. Kini Eastmovin mulai membidik pasar internasional melalui penjualan daring (e-commerce) internasional. Tas Eastmovin dijual hingga pasar Malaysia, Singapura, Filipina, dan Amerika. Namun, jumlahnya belum terlalu besar.
”Ada salah satu pengusaha di Malaysia yang membuka booth untuk UMKM Indonesia. Produk kami diminta untuk mengisi booth itu. Mudah-mudahan bisa secepatnya,” tuturnya.(*)

