iniSO.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) padat karya agar naik kelas. Salah satu upaya terbaru yang dilakukan adalah memperkuat sistem manajemen UMKM melalui digitalisasi berbasis kolaborasi internasional.
Terbaru, Pemkot Surabaya menggandeng Universitas Kristen (UK) Petra dan Singapore University of Technology and Design (SUTD) dengan melibatkan 60 mahasiswa untuk membedah tantangan manajemen dan operasional di Koperasi Sumber Mulia Barokah (SMB).
Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing UMKM melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Koperasi SMB merupakan salah satu UMKM padat karya unggulan yang berhasil memberdayakan warga kurang mampu. Meski omzetnya terus meningkat, sistem operasionalnya masih membutuhkan sentuhan teknologi,” ujar Mia, Minggu (11/1/2026).
Menurutnya, kerja sama ini juga akan membantu aspek pemasaran UMKM melalui aplikasi Stokis, sehingga pengelolaan barang tidak lagi dilakukan secara manual.
“Jika prototype digitalisasi ini berhasil, Pemkot Surabaya berencana mereplikasinya agar bisa dimanfaatkan oleh UMKM lain di seluruh Surabaya,” tambahnya.
Wakil Dekan II School of Business and Management UK Petra, Vido Iskandar, menjelaskan bahwa program kolaborasi ini tidak sekadar kunjungan akademik, melainkan menerapkan metode hackathon.
“Metode hackathon menantang mahasiswa secara intensif selama dua hari untuk menciptakan solusi berbasis machine learning dan data visualization yang dapat mendorong kemajuan koperasi,” jelas Vido.
Ia menambahkan, output dari program ini berupa website berbasis data yang dikembangkan oleh mahasiswa dari jurusan Bisnis dan Informatika.
“Ke depan, pengambilan keputusan koperasi harus berbasis data yang akurat dan terintegrasi,” tegasnya.
Ketua Koperasi SMB, Ucik Fatimatuzzahro, menyambut positif kolaborasi antara Pemkot Surabaya dan perguruan tinggi tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu empat tahun, koperasi dengan 111 anggota penjahit ini telah berkembang pesat. Awalnya hanya memproduksi seragam sekolah, kini SMB memproduksi berbagai jenis pakaian seperti baju kerja, kaos, hingga busana muslim.
“Kami sangat terbatas dalam hal digitalisasi, baik untuk marketing maupun manajemen. Kami berharap ada sistem seperti ‘rekam medis’ untuk setiap SDM, sehingga performa penjahit dan biaya tenaga kerja tercatat jelas,” ujarnya.
Dengan adanya database digital, Ucik optimistis koperasinya dapat menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) secara lebih efisien dan siap menembus pasar di luar Pulau Jawa.

