iniSO.co – Hamparan sekitar 190 hektare lahan di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, kini tak sekadar menyuguhkan panorama deretan pohon lontar. Lebih dari itu, kawasan ini telah menjelma menjadi pusat pertumbuhan ekonomi desa berbasis potensi lokal yang mampu menghidupi ratusan warga.
Desa Hendrosari dikenal sebagai sentra produksi legen, minuman tradisional dari getah bunga lontar. Ribuan pohon lontar yang tumbuh subur menjadi penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Transformasi ekonomi desa mulai terasa signifikan sejak hadirnya destinasi Wisata Edu Lontar Sewu pada 2019. Pengembangan kawasan ini merupakan bagian dari program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PIID-Pel) Kementerian Desa yang bertujuan mengoptimalkan potensi desa secara terpadu.
Dengan sekitar 3.600 pohon lontar dan dukungan potensi UMKM yang besar, wisata ini berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang terintegrasi. Saat ini, Wisata Edu Lontar Sewu mampu menyerap sedikitnya 63 tenaga kerja lokal serta mendorong pertumbuhan 47 UMKM aktif. Bahkan, pada masa puncak kunjungan, jumlah pelaku usaha yang terlibat pernah menembus lebih dari 100 UMKM.
Direktur BUMDes Hendrosari, Aristoteles, mengungkapkan bahwa kehadiran wisata ini telah memicu lahirnya berbagai usaha baru di tengah masyarakat.
“Perkembangan Edu Wisata Lontar Sewu mendorong munculnya banyak warung dan usaha mandiri yang semakin memperkuat ekonomi desa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/3/2026).
Tak hanya sektor wisata dan UMKM, dampak positif juga dirasakan langsung oleh para petani legen. Jika sebelumnya mereka harus berkeliling menjajakan dagangan dari pasar ke pasar, kini pola pemasaran berubah drastis.
“Sekarang justru pembeli yang datang langsung ke desa wisata,” tambahnya.
Di sisi lain, dukungan sektor perbankan turut memperkuat ekosistem ekonomi desa. Melalui pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta bantuan sarana produksi seperti mesin pendingin, BRI memberikan kontribusi nyata terhadap keberlanjutan usaha petani dan pelaku UMKM.
Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa penguatan desa menjadi bagian penting dari strategi perusahaan melalui program Desa BRILiaN.
“Program Desa BRILiaN berfokus pada empat pilar utama, yaitu penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan melalui BRImo dan AgenBRILink, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia dan akan terus diperluas untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Keberhasilan Desa Hendrosari menjadi contoh konkret bahwa pengelolaan potensi lokal yang terintegrasi dengan dukungan berbagai pihak mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, UMKM, dan sektor perbankan menjadikan desa ini kian mandiri, produktif, serta berdaya saing tinggi.

