iniSO.co – Di tengah sorotan praktik pengelolaan anggaran daerah yang kerap berujung kasus korupsi, Pemerintah Kabupaten Gresik justru mengambil langkah berbeda. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memilih menekan belanja daerah, mengumpulkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA), lalu mengembalikannya untuk kepentingan masyarakat.
Langkah tersebut disampaikan langsung dalam forum One Week yang dihadiri seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Senin (30/3/2026). Dalam kesempatan itu, bupati yang akrab disapa Gus Yani menegaskan pentingnya mengubah pola pikir birokrasi yang selama ini identik dengan menghabiskan anggaran demi penilaian kinerja.
“Ini yang harus kita ubah. Jangan lagi berpikir anggaran harus habis supaya dianggap kinerjanya baik. Justru kita harus berani efisiensi dan memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat,” tegasnya kepada wartawan.
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah banyaknya kasus hukum yang menjerat kepala daerah akibat pengelolaan anggaran yang tidak sehat, seperti praktik mark-up hingga proyek yang dipaksakan demi penyerapan anggaran.
Berbeda dengan pola tersebut, Gus Yani justru mendorong lahirnya SiLPA dari hasil efisiensi yang dilakukan secara terukur dan sistematis. Menurutnya, SiLPA bukanlah bentuk kegagalan, melainkan potensi kekuatan fiskal daerah.
“SiLPA dari efisiensi ini bukan kegagalan. Ini justru kekuatan. Kita kumpulkan, lalu kita kembalikan ke masyarakat, khususnya untuk UMKM dan program yang benar-benar menyentuh rakyat bawah,” ujarnya.
Ia memastikan, dana hasil efisiensi tersebut akan dievaluasi pada akhir tahun anggaran dan dimasukkan dalam Perubahan APBD (P-APBD) agar penggunaannya lebih tepat sasaran.
Kebijakan efisiensi ini juga diterjemahkan ke langkah konkret di lingkungan aparatur sipil negara (ASN). Salah satunya melalui imbauan bersepeda setiap hari Jumat bagi ASN yang tinggal dalam radius maksimal 5 kilometer dari kantor.
Menurut Gus Yani, kebijakan ini bukan sekadar simbolis, tetapi bagian dari upaya nyata menekan pemborosan energi di lingkungan pemerintahan.
“Efisiensi itu harus terasa. BBM kita hemat, listrik kita tekan, penggunaan air juga kita kendalikan. Dari situ akan muncul SiLPA yang bisa kita manfaatkan kembali untuk rakyat,” jelasnya.
Selama ini, SiLPA kerap dipandang sebagai indikator rendahnya serapan anggaran. Bahkan, tidak jarang dihindari dengan berbagai cara instan yang berpotensi membuka celah penyimpangan.
Namun di Gresik, paradigma tersebut coba diubah. SiLPA tidak lagi dilihat sebagai sisa anggaran, melainkan sebagai strategi untuk menciptakan tata kelola keuangan daerah yang lebih sehat dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Langkah ini sekaligus menjadi ujian bagi konsistensi birokrasi di Gresik. Di tengah bayang-bayang praktik korupsi dan budaya belanja yang boros di berbagai daerah, pendekatan efisiensi yang diusung Gus Yani mengirim pesan kuat bahwa keberanian menahan belanja dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi publik.

