iniSO.co – Geliat UMKM Bojonegoro kembali menunjukkan tren positif, khususnya di sektor kuliner tradisional. Salah satunya datang dari usaha tape ketan ijo godong kloso milik Susi Liniswati asal Kecamatan Kalitidu yang kini kian diminati pasar.
Dengan mengandalkan cita rasa khas dan proses tradisional, Susi mampu menjual hingga 20 ikat tape ketan setiap hari. Produk tersebut dibanderol dengan harga Rp10.000 per ikat dan hampir selalu habis terjual.
“Alhamdulillah, setiap jualan habis terus. Banyak yang suka, apalagi rasanya khas dan dibungkus daun,” ujar Susi.
Tape ketan ijo godong kloso yang diproduksi Susi memiliki keunikan tersendiri. Selain menggunakan bahan ketan pilihan, proses fermentasi dilakukan secara tradisional sehingga menghasilkan rasa manis khas yang autentik.
Penggunaan daun sebagai pembungkus juga menjadi nilai tambah. Selain memberikan aroma alami, cara ini dinilai mampu menjaga kualitas rasa sekaligus memperkuat identitas kuliner tradisional.
Di tengah maraknya makanan modern, produk berbasis tradisional seperti ini justru semakin dicari masyarakat sebagai alternatif kuliner yang alami dan nostalgia.
Susi mengungkapkan, keberhasilan usahanya tidak lepas dari konsistensi dalam menjaga kualitas rasa dan kebersihan produk. Ia memastikan seluruh proses produksi dilakukan secara teliti, mulai dari pemilihan bahan hingga pengemasan.
Hal tersebut membuat pelanggan merasa puas dan terus melakukan pembelian ulang, sehingga permintaan tetap stabil bahkan cenderung meningkat.
Dukungan Perbankan Dorong UMKM Naik Kelas
Sebagai pelaku UMKM kuliner tradisional, Susi juga merasakan manfaat dukungan dari Bank Rakyat Indonesia yang aktif mendorong pengembangan usaha kecil di daerah.
Melalui akses permodalan dan pembinaan, UMKM seperti miliknya mendapatkan peluang lebih besar untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Dengan adanya dukungan dari BRI, kami jadi lebih semangat mengembangkan usaha. Harapannya bisa lebih besar lagi,” ungkapnya.
Fenomena larisnya tape ketan ijo ini menjadi bukti bahwa produk lokal dengan cita rasa autentik masih memiliki tempat di hati masyarakat. Bahkan, di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, makanan tradisional justru menunjukkan daya tahan yang kuat.
Ke depan, Susi berharap usahanya dapat terus berkembang, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Ia juga berencana memperluas jaringan penjualan agar produknya semakin dikenal, tidak hanya di Bojonegoro, tetapi juga hingga luar daerah.
Kisah ini menjadi contoh nyata bahwa dengan ketekunan, inovasi sederhana, dan dukungan yang tepat, UMKM Bojonegoro mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika ekonomi saat ini.

