iniSO.co – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga bahan baku impor dan kemasan yang dipicu gejolak geopolitik internasional. Kondisi tersebut diperparah dengan melemahnya daya beli masyarakat serta meningkatnya kebutuhan rumah tangga menjelang tahun ajaran baru sekolah.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak tersebut adalah Gatot Siswanto, pemilik usaha Tahu Takwa GTT Kediri di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem. Ia mengaku memilih mempertahankan harga jual produk meski biaya produksi terus meningkat.
Menurut Gatot, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat kenaikan harga berisiko menurunkan penjualan.
“Masyarakat saat ini belum ada peningkatan ekonomi yang signifikan. Jadi kami lebih baik bertahan dulu. Produksi tidak begitu besar karena kalau harga dinaikkan, sementara ekonomi masyarakat belum membaik, justru bisa kontraproduktif,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, omzet penjualan UMKM Kediri juga terdampak oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk biaya pendidikan anak pada awal tahun ajaran baru.
“Ini apalagi bersamaan dengan anak-anak masuk sekolah. Yang jelas sangat mempengaruhi omzet penjualan dari pelaku UMKM,” katanya.
Selain penurunan permintaan, pelaku usaha juga harus menghadapi lonjakan harga kedelai impor. Harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp10.500 per kilogram kini naik menjadi Rp12.500 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada harga plastik kemasan yang masih bergantung pada pasokan bahan baku impor.
Untuk menekan biaya operasional, Gatot melakukan efisiensi dengan mengurangi hari kerja produksi dari enam hari menjadi empat hingga lima hari dalam sepekan.
“Biasanya satu minggu masuk enam hari, sekarang empat sampai lima hari saja,” ungkapnya.
Meski demikian, kapasitas produksi harian tetap dipertahankan. Setiap hari, usaha Tahu Takwa GTT masih mengolah sekitar tiga kuintal kedelai guna memenuhi kebutuhan pasar.
Sementara itu, tantangan serupa juga dihadapi Eli Setiowati, pemilik usaha Omah Jenang di Desa Kayunan, Kecamatan Plosoklaten. Kenaikan biaya produksi mendorongnya mencari alternatif untuk menekan pengeluaran usaha.
Eli memilih menggunakan tungku kayu bakar sebagai pengganti bahan bakar yang lebih mahal. Langkah tersebut dinilai efektif mengurangi biaya produksi di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan usaha.
“Untuk menyiasati harga produksi yang semakin membengkak, kami beralih menggunakan tungku kayu untuk menekan biaya produksi,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Omah Jenang juga mulai mengganti kemasan berbahan plastik dengan besek bambu. Selain lebih ekonomis, kemasan tradisional tersebut dinilai memiliki nilai estetika dan lebih ramah lingkungan.
Eli mengakui penyesuaian harga jual kemungkinan akan dilakukan jika tekanan biaya terus berlanjut. Namun, pihaknya tetap mengedepankan komunikasi dengan pelanggan agar kebijakan tersebut dapat dipahami.
Sebagai strategi jangka panjang, Omah Jenang juga memperkuat diversifikasi produk serta pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Kuncinya adalah diversifikasi varian produk agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas, serta optimalisasi digital marketing,” tegasnya.
Kondisi yang dialami pelaku UMKM Kediri menunjukkan dampak nyata gejolak ekonomi global terhadap sektor usaha lokal. Di tengah kenaikan harga bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat, efisiensi operasional, inovasi produk, dan pemasaran digital menjadi strategi utama untuk menjaga keberlangsungan usaha.

