SURON.CO, Trenggalek – UMKM rumahan di Trenggalek selalu memiliki ciri khas tersendiri dari kearifan lokal. Salah satunya usaha rumahan opak gambir, jajanan tradisional memiliki komposisi tepung, gula, dan kayu manis sambil menuangkan santan secara perlahan bertahap.
Sementara untuk pembuatan cetak memakai cetakan kue semprong, lalu digapit serta dibalik hingga terjadi perubahan warna. Pengusaha rumahan opak gambir salah satunya Riyanto (55). Ia meneruskan usaha yang didirikan orang tuanya sedari 1980 silam. Namun, ia ikut membantu membuat opak gambir masih 2004 silam. Karena ia saat itu baru kembali dari perantauan di Lampung.
“Mulai usaha opak gambir itu dari Ibu dari tahun 1980 secara turun-temurun. Saya mulai membantu itu mulai tahun 2004 karena sebelumnya saya di Lampung,” ungkap Riyanto.
Ia mengaku dalam sehari hasil produksi tidak menentu dan seberapa. Namun berbanding terbalik saat menjelang Lebaran dan musim hajatan. Kebanyakan digunakan sebagai pasangan souvernir nikahan. “Kalau rata-rata sehari sekitar 10 kg. Jika Lebaran itu bisa mencapai 2-3 kuintal selama 1 bulan,” terangnya.
Pria yang tinggal di RT 13 RW 05 Dusun Jatirejo, Desa-Kecamatan Suruh ini mengaku opak gambir yang memiliki bahan tepung tapioka dan tepung sagu yang diaduk. Sebelumnya telur dan gula dimixer, setelah selesai langsung masuk ke pemanggangan sebentar tidak sampai satu menit.
Sementara ditanya perihal perbedaan olahan opak gambir miliknya dibanding yang lain terletak dalam rasa. Rasa gurih dan renyah dipadukan rasa jahe alamai serta wijen membuat cita rasa khas. “Spesialnya di sini adalah wijen rasa jahe, tidak ada yang lain. Resep yang dipakai sedari Ibu sudah seperti ini,” jelasnya.
Dalam menjalankan pesanan, Riyanto dibantu oleh istri dan anak perempuannya. Pesanan yang membeli rata-rata dari luar kota, mulai Kalimantan, Surabaya, Malang sampai Irian Jaya. Konsumen yang ingin membeli menurutnya biasa menghubungi lewat WhatsApp terlebih dahulu. Jika stok masih tersedia langsung bisa dikirimkan, ketika belum ada akan dibuatkan terlebih dahulu.
“Dipacking sudah tercantum nomor handpone yang bisa dihubungi. Kalau ke sini bisa, sering ada. Kecuali pas hari ini habis itu paling besok pagi dibuatkan,” terangnya.
Sedangkan untuk range harga, mulai yang paling murah Rp 12 ribu dan Rp 17,5 ribu. Sampai yang paling mahal dengan harga Rp 120 ribu. Selain lebih banyak serta menggunakan packaging dari kotakan berlapis seng.
Sementara disinggung kendala yang dihadapi Riyanto selama ini masih pada saat harga bahan pembuatan yang mahal. Termasuk ketika gas elpiji langka membuat dirinya harus memutar otak untuk berproduksi. “Mungkin pas harga bahan-bahannya naik seperti telur. Sempat juga gas elpiji kadang-kadang langka dulu, kalau sekarang alhamdulillah sudah aman,” tandasnya.(*)

