Minke.id – Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2025 resmi berakhir pada Sabtu sore (21/6), setelah tiga hari berlangsung meriah. Acara penutupan digelar dengan nuansa penuh apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, yang turut hadir memberikan sambutan sekaligus apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta.
Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Mas Wahono menyampaikan harapannya agar BWBF tidak hanya menjadi ajang tahunan semata, namun mampu melahirkan desainer batik muda dari Bojonegoro yang siap bersaing di pasar lokal maupun nasional.
“Kalau berkaca pada orang marketing, mana yang paling banyak diminati pasar, itu yang perlu kita dorong dan perbanyak,” ujar Mas Wahono di hadapan peserta dan tamu undangan.
BWBF 2025 dikemas secara kreatif guna menarik partisipasi pelaku UMKM, khususnya di sektor batik Bojonegoro, yang mengusung motif khas seperti kayu jati, tembakau, dan Kahyangan Api. Mas Wahono menegaskan bahwa batik tidak hanya soal estetika, tetapi juga tentang melestarikan budaya dan kearifan lokal Bojonegoro.
“Kami ingin menggerakkan UMKM, terutama batik, agar bisa menjadi kebanggaan daerah. Motif batik kita itu unik dan berasal dari kekayaan alam Bojonegoro. Ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya,” jelasnya.
Menariknya, BWBF 2025 tidak hanya diikuti pelaku usaha dari Bojonegoro. Dari total 105 stan yang tersedia, sebanyak 22 stan berasal dari luar daerah, termasuk tujuh stan dari anggota Dekranasda Jawa Timur. Hal ini menjadi bukti bahwa BWBF telah menjadi ajang kolaborasi lintas wilayah dalam mempromosikan wastra Nusantara.
Dengan berakhirnya Bojonegoro Wastra Batik Festival 2025, masyarakat dan pemerintah daerah berharap bahwa batik khas Bojonegoro semakin dikenal luas dan bisa menjadi identitas budaya yang membanggakan. Selain itu, acara ini diharapkan menjadi titik awal munculnya inovasi batik dari generasi muda yang mampu mengangkat nama Bojonegoro di kancah nasional.

