Minke.id – Pemerintah Kabupaten Jombang bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) resmi memulai pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal untuk industri tahu di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
Groundbreaking ditandai dengan penanaman pohon oleh jajaran KLHK, PGN, Bupati Jombang Warsubi, serta Forkopimda. Lokasi pembangunan berada di sentra UMKM tahu yang dikenal sebagai salah satu penghasil limbah terbesar di wilayah tersebut.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLHK, Tulus Laksono, menjelaskan bahwa limbah cair dari industri tahu di Jogoroto telah menjadi perhatian serius sejak 2024. Pasalnya, limbah yang mencapai 1,2 juta liter per hari berpotensi mencemari Sungai Brantas, sumber kehidupan jutaan warga Jawa Timur.
“Industri tahu di Desa Mayangan menghasilkan 1,2 juta liter air limbah per hari. Ini ancaman serius bagi Sungai Brantas,” ungkap Tulus.
Berdasarkan data KLHK, beban pencemar dari industri tahu di Jogoroto mencapai 1.533 ton BOD per tahun. Dengan adanya IPAL komunal, volume limbah ditargetkan berkurang menjadi 995.600 liter per hari, serta beban pencemar dapat ditekan hingga 969,44 ton BOD per tahun.
Pembangunan IPAL komunal ini didanai melalui program CSR PGN senilai Rp 7,7 miliar. Selain pembangunan IPAL, program juga mencakup pemanfaatan eceng gondok dan minyak jelantah sebagai biofuel, serta pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.
Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN, Rahmat Hutama, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen PGN sebagai subholding Pertamina untuk mendukung transisi energi bersih.
“Melalui CSR, kami ingin menghadirkan solusi lingkungan yang juga memperkuat ekonomi lokal,” ujarnya.
Bupati Jombang, Warsubi, menyebut industri tahu telah menjadi ikon ekonomi lokal sejak 1970-an. Saat ini, terdapat 88 unit usaha tahu yang tersebar di Desa Mayangan, Sumbermulyo, dan Ngumpul. Namun, limbah yang dihasilkan mencapai 1,76 juta liter per hari, sebagian besar masih mengalir langsung ke sungai.
“Pemkab Jombang berkomitmen menangani limbah melalui pembangunan IPAL, pemanfaatan biogas, serta penguatan koperasi pengrajin tahu,” tegas Warsubi.
KLHK juga mendorong para pelaku UMKM tahu untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mengelola limbah secara mandiri melalui paguyuban atau koperasi, agar pengelolaan lingkungan berjalan berkelanjutan.
Proyek pembangunan IPAL komunal ini ditargetkan selesai dan mulai beroperasi penuh pada 2026. Kehadiran IPAL diharapkan mampu melindungi kualitas lingkungan sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi berbasis UMKM di Kabupaten Jombang.

