Minke.id – Peran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sumenep terbukti sangat vital dalam menopang perekonomian daerah.
Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kabupaten Sumenep, Moh. Ramli, mengungkapkan bahwa 30 persen lebih tenaga kerja di Sumenep berasal dari sektor UMKM, dengan kontribusi ekonomi mencapai 3 hingga 4 persen dari total sektor ekonomi daerah.
“Dengan jumlah UKM yang hampir 300 ribu pelaku usaha, potensi ini nyata dan terus kita dorong, terutama dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Ramli menjelaskan, sektor-sektor produktif seperti perdagangan, kuliner, dan industri rumahan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sumenep.
Salah satu contohnya, aglomerasi pabrik hasil tembakau di wilayah setempat yang telah mampu menyerap setidaknya 220 tenaga kerja secara langsung.
“Kalau ditotal, sekitar 300 ribu pelaku UKM dari total penduduk 1,1 juta jiwa di Sumenep. Dari sisi tenaga kerja, ini sudah mendekati 50 persen dari total angkatan kerja,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep membuka pusat layanan terpadu bernama Halal Hub untuk membantu pelaku UMKM mengurus izin usaha, sertifikat halal, hingga merek dagang.
“Halal Hub ini tidak hanya menyediakan pendampingan, tetapi juga membantu pembiayaan untuk proses legalitas dan sertifikasi,” tambah Ramli.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pemkab untuk memperkuat daya saing dan kepercayaan pasar terhadap produk lokal Sumenep.
Selain legalitas, Pemkab Sumenep juga aktif membantu pelaku UMKM dalam promosi digital dan partisipasi di berbagai pameran, misi dagang, serta event ekonomi daerah.
Pemerintah daerah bahkan menjadwalkan kehadiran UMKM dalam setiap kalender event Kabupaten Sumenep, agar pelaku usaha mendapatkan akses pasar yang lebih luas, baik secara offline maupun online.
“Ini bukti nyata pemerintah hadir untuk memberi fasilitas dan peluang konkret bagi masyarakat pelaku usaha,” tegas Ramli.
Sejumlah produk khas Sumenep kini telah mendapat atensi nasional bahkan internasional, di antaranya keris, ukiran, batik, daun kelor, kacang mete, serta bawang Rubaru yang telah memiliki sertifikat indikasi geografis.
Capaian ini menjadi bukti bahwa UMKM Sumenep bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan daya saing global.

