Minke.id – Buah siwalan tua yang selama ini dianggap tidak bernilai dan hanya menjadi limbah kebun, kini berubah menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi Hadi Suminto, warga Gedongombo, Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Melalui inovasi dan ketekunan, Hadi berhasil mengolah siwalan tua menjadi aneka jajanan berkualitas tinggi, bahkan produknya mulai dikenal hingga pasar mancanegara.
Kabupaten Tuban dikenal sebagai salah satu sentra penghasil siwalan di Jawa Timur. Dalam setahun, petani bisa panen hingga empat kali, dan dari satu pohon siwalan dapat menghasilkan sekitar 100–200 butir buah. Namun, lebih dari separuh buah itu biasanya dibuang karena sudah terlalu tua dan tidak memiliki nilai jual.
Melihat tumpukan buah yang membusuk dan mengotori lahan, Hadi merasa terpanggil untuk mencari solusi.
“Awalnya saya melihat siwalan itu cuma numpuk, membusuk dan mengotori lahan. Sayang sekali. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya limbah ini bisa diolah menjadi makanan yang bermanfaat,” ujar Hadi, Rabu (19/11/2025).
Proses yang dijalani Hadi tidak mudah. Sejak 2015, ia mencoba berbagai olahan seperti keripik siwalan dan jajanan ringan lainnya. Namun hasilnya belum memuaskan.
Perubahan besar terjadi pada 2022 ketika ia menemukan formula tepat untuk mengolah siwalan tua menjadi jenang siwalan. Produk ini langsung mendapat respons positif dari pasar.
“Inovasi ini akhirnya cocok ketika saya buat jenang. Dari situ saya ikut lomba inovasi dan Alhamdulillah berprestasi dari tingkat kabupaten sampai provinsi,” ungkapnya.
Keberhasilan itu membuat produk siwalan olahan Hadi makin dikenal luas dan dilirik pembeli dari berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.
Aneka Olahan Siwalan, Omzet Tembus Rp 9 Juta Per Bulan
Tidak berhenti pada jenang, Hadi mengembangkan produk lain seperti kue bugis, klepon, dan mochi siwalan. Semua produk tersebut mendapat sambutan baik dari pelanggan karena rasa unik dan teksturnya yang khas.
Usaha kecil yang ia rintis itu kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp 9 juta per bulan.
“Alhamdulillah, sementara omzetnya bisa sampai 9 juta per bulan. Masyarakat suka, dan pesannya terus berdatangan,” ujarnya.
Harga jenang siwalan cukup terjangkau, yakni Rp 20 ribu untuk kemasan 200 gram dan Rp 40 ribu untuk kemasan 500 gram, menyesuaikan permintaan konsumen.
Hadi berharap inovasinya dapat memotivasi masyarakat Tuban untuk lebih memanfaatkan potensi lokal, terutama dalam mengolah limbah hasil perkebunan agar memiliki nilai tambah.
Ia juga terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar atau berdiskusi mengenai cara mengolah siwalan tua.
“Semoga inovasi ini dapat menginspirasi para warga Tuban,” pungkasnya.
Dengan kreativitas dan tekad yang kuat, Hadi Suminto kini menjadi contoh nyata bagaimana limbah yang dianggap tak bernilai dapat menjelma menjadi produk unggulan bernilai ekonomi tinggi. Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir dan pedesaan di Tuban.

