iniSO.co – Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, berkembang pesat sebagai sentra produksi tempe berbasis rumah tangga yang menopang perekonomian warga. Ratusan pengrajin tempe aktif setiap hari memproduksi tempe dalam skala besar sekaligus menghadirkan beragam inovasi olahan bernilai tambah.
Aktivitas merebus kedelai, menyiapkan tungku tradisional, hingga membungkus tempe dengan daun pisang telah menjadi rutinitas turun-temurun warga Desa Parerejo. Aroma khas kedelai rebus menyelimuti kawasan desa yang kini dikenal luas sebagai Kampung Tempe Parerejo.
Bagi masyarakat setempat, tempe bukan sekadar pangan tradisional, melainkan sumber penghidupan utama yang diwariskan lintas generasi. Keahlian memproduksi tempe terus dijaga untuk mempertahankan kualitas, cita rasa, dan kepercayaan pasar.
Salah satu pengrajin tempe Desa Parerejo, Mukhammad Irfan, mengungkapkan kapasitas produksinya mencapai satu kuintal tempe per hari. Produk yang dihasilkan tidak hanya tempe batangan untuk pasar tradisional, tetapi juga berbagai olahan modern yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Tempe batangan tetap kami suplai ke pasar karena permintaannya stabil. Selain itu, kami kembangkan menjadi keripik tempe, nugget, mendol krispi, brownies, hingga cookies,” ujar Irfan di sela aktivitas produksinya.
Dari berbagai inovasi tersebut, Irfan menyebut omzet usahanya mampu menembus Rp50 juta per bulan. Harga produk tempe Parerejo juga relatif terjangkau, mulai dari tempe batangan ukuran besar seharga Rp30 ribu, tempe kemasan mika Rp10 ribu, tempe mendoan kemasan Rp6 ribu, hingga keripik tempe Rp70 ribu per kilogram.
“Tempe Parerejo ini berbeda karena rasanya lebih gurih dan teksturnya empuk,” tambahnya.
Produksi 20 Ton per Hari, Perputaran Uang Rp200 Juta
Skala produksi tempe di Desa Parerejo turut memperkuat peran desa ini sebagai penggerak ekonomi lokal. Camat Purwodadi, Sugiarto, menyebutkan terdapat sekitar 185 pengrajin tempe yang aktif berproduksi setiap hari.
“Produksi tempe di Parerejo mencapai sekitar 20 ton per hari. Perputaran uang dari kegiatan ini bisa menyentuh Rp200 juta setiap harinya,” kata Sugiarto.
Menurutnya, keberadaan Kampung Tempe Parerejo tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan sektor pendukung seperti distribusi bahan baku, kemasan, hingga pemasaran.
Dengan konsistensi produksi dan inovasi olahan tempe, Kampung Tempe Parerejo Pasuruan tidak hanya menjaga warisan pangan tradisional Indonesia, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal serta edukasi UMKM berbasis desa.
Ke depan, Parerejo berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi tempe sekaligus contoh sukses pengembangan industri pangan lokal yang berkelanjutan.

