iniSO.co – Kisah perjuangan Pak Teguh (44), seorang pedagang bakpao keliling di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjadi potret nyata keteguhan hidup para perantau. Sejak tahun 2000, Pak Teguh menekuni usaha berjualan bakpao sebagai mata pencaharian utama demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dengan tekad mencari rezeki yang halal dan kehidupan yang lebih baik, Pak Teguh memutuskan merantau dari Lamongan ke Sumenep. Keputusan itu tidak mudah. Ia harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga, serta memulai hidup dari nol dengan berbagai keterbatasan.
Pada awal merintis usaha, harga bakpao yang dijual Pak Teguh hanya Rp 200 per biji. Ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, menyusuri jalanan tanpa mengenal waktu demi menawarkan dagangannya kepada masyarakat.
Setiap hari, Pak Teguh harus berjibaku dengan panas terik matahari dan hujan yang datang silih berganti. Penghasilan yang diperoleh kala itu belum seberapa. Namun, ia tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.
“Saya hanya ingin bekerja jujur dan halal. Walaupun capek keliling, yang penting bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Pak Teguh saat ditemui RRI di sela aktivitas berjualannya, Rabu (21/1/2026).
Seiring berjalannya waktu, kenaikan harga bahan baku dan biaya hidup membuat harga jual bakpao ikut mengalami penyesuaian. Saat ini, bakpao dagangan Pak Teguh dijual dengan harga Rp 3.000 per biji. Meski demikian, ia tetap menjaga kualitas rasa agar para pelanggan setianya tidak kecewa.
Lebih dari sekadar berdagang, kisah pedagang bakpao keliling di Sumenep ini mencerminkan nilai kerja keras, ketekunan, dan kejujuran. Perjuangan Pak Teguh menjadi gambaran nyata semangat perantau yang pantang menyerah demi masa depan keluarga yang lebih baik.

