iniSO.co – PT Pertamina terus memperkuat pembinaan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Hingga saat ini, lebih dari 30 ribu UMKM tercatat menjadi mitra binaan perusahaan energi milik negara tersebut.
VP CSR & SMEPP Rudi Ariffianto mengatakan, proses membina pelaku usaha kecil agar mampu berkembang dan naik kelas bukan perkara mudah. Selain memberikan pelatihan dan akses pendanaan, Pertamina juga harus memastikan UMKM binaan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan pola perdagangan modern.
Menurut Rudi, salah satu tantangan utama dalam pembinaan UMKM adalah rendahnya kesadaran pelaku usaha untuk mengikuti perkembangan teknologi, khususnya dalam pemasaran digital.
“Misalnya ada UMKM yang tidak terbiasa berbicara di depan kamera karena selama ini mereka hanya berjualan secara offline. Kami bina sedemikian rupa, bahkan ‘dipaksa’ belajar public speaking karena sekarang mereka harus bisa berjualan secara online,” ujar Rudi saat ditemui di Grha Pertamina, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, pelaku UMKM saat ini tidak cukup hanya menjual produk secara konvensional. Perdagangan digital berkembang pesat, bahkan kini banyak transaksi dilakukan melalui fitur live streaming di berbagai platform media sosial.
Melalui siaran langsung tersebut, pelaku usaha dapat mempromosikan produknya secara interaktif, menjelaskan keunggulan barang, hingga menawarkan promo khusus kepada pembeli.
“Kalau tidak bisa bicara untuk promosi, bagaimana caranya jualan online? Karena itu kami latih betul-betul. Mereka juga diberi target harus menghasilkan penjualan dan followers agar bisnisnya berkembang,” jelasnya.
Selain persoalan literasi digital, tantangan lain yang dihadapi UMKM adalah minimnya struktur organisasi dalam usaha yang dijalankan. Banyak pelaku usaha masih mengerjakan seluruh aktivitas bisnis seorang diri.
“Banyak pengusaha UMKM itu merangkap semuanya. Dia CEO, direktur operasi, sekaligus manager marketing. Itu yang kemudian kita dampingi melalui proses grooming dan pendampingan,” kata Rudi.
Meski demikian, upaya pembinaan yang dilakukan Pertamina mulai menunjukkan hasil. Sebagian besar UMKM binaan kini mulai memahami pentingnya digitalisasi bisnis serta pembagian peran dalam menjalankan usaha.
Program akselerasi UMKM tersebut juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, guna memperkuat kapasitas pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Rudi mencontohkan salah satu UMKM binaan di Jawa Tengah yang kini mulai memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran. Bahkan, generasi muda di keluarga pelaku usaha turut terlibat dalam proses pemasaran melalui media sosial.
“Saya baru saja monitoring ke salah satu UMKM binaan di Jawa Tengah. Sekarang anaknya sudah ikut membantu pemasaran lewat TikTok. Jadi generasi muda juga mulai terlibat membantu usaha keluarganya berkembang,” pungkasnya.

