iniSO.co – Lonjakan harga plastik di Kota Pasuruan semakin terasa di tingkat pelaku usaha. Tidak hanya harga produk jadi, bahan baku utama berupa biji plastik juga dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat, sehingga biaya produksi membengkak dalam waktu singkat.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, kenaikan harga terjadi hampir di seluruh jenis plastik yang beredar di pasaran. Mulai dari kantong plastik untuk kebutuhan toko dan pasar, plastik kemasan makanan dan minuman, hingga plastik wrapping untuk pengemasan barang, seluruhnya mengalami penyesuaian harga yang cukup signifikan.
Tim gabungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), DPMPTSP, serta Satpol PP Kota Pasuruan turun langsung ke sejumlah toko plastik dan pelaku usaha untuk memastikan kondisi di lapangan.
Hasil pemantauan menunjukkan, harga produk plastik jadi mengalami kenaikan antara 30 hingga 70 persen. Namun lonjakan tertinggi justru terjadi pada bahan baku.
Harga biji plastik yang menjadi komponen utama industri kini mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga bahan baku tersebut masih berada di kisaran Rp 20 ribu per kilogram.
Kenaikan hingga 100 persen itu membuat pelaku usaha, terutama UMKM di Kota Pasuruan, berada dalam posisi sulit. Mereka harus menghadapi biaya produksi yang meningkat drastis, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Kabid Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, mengatakan fluktuasi harga plastik dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
“Kita masih sangat bergantung pada bahan baku impor, sehingga ketika terjadi gejolak global, harga langsung terdampak. Selain itu, distribusi di tingkat supplier juga terbatas,” ujar Mulyono.
Menurutnya, pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan akibat lonjakan harga plastik tersebut. Di satu sisi mereka harus menanggung kenaikan biaya produksi, namun di sisi lain tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produknya.
“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, mereka khawatir kehilangan konsumen. Ini yang membuat margin keuntungan semakin tergerus,” imbuhnya.
Sejumlah pelaku usaha kini mulai menyiasati kondisi tersebut dengan membatasi pembelian bahan baku. Langkah itu dilakukan untuk menekan risiko kerugian di tengah harga plastik yang masih berfluktuasi.
Selain mengurangi pembelian, sebagian UMKM juga memilih menunda produksi dalam skala besar sambil menunggu harga kembali stabil.
Mulyono memastikan Pemerintah Kota Pasuruan akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran barang di pasaran, sekaligus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas harga.
“Kami memastikan akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran barang di pasaran, sekaligus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas harga,” tegasnya.

