iniSO.co – Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Bali mempercepat digitalisasi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat program Onboarding UMKM RAHAYU (Rintis, Akselerasi, Hebatkan Daya Saing UMKM) pada 9–10 April 2026. Program ini menjadi langkah konkret dalam mendorong transformasi digital, praktik usaha berkelanjutan, serta perluasan akses pasar domestik hingga ekspor.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Ronald Dungdung Parluhutan, menegaskan bahwa pengembangan UMKM merupakan strategi penting dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Penguatan UMKM melalui digitalisasi dan ekspor diharapkan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung pengendalian inflasi melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi,” ujarnya, Kamis (10/4/2026).
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, menyebut UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Bali, khususnya pada sektor kuliner, fesyen, dan kerajinan. Meski demikian, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan seperti literasi digital, akses pembiayaan, kapasitas produksi, hingga penetrasi pasar ekspor.
Menurutnya, kegiatan onboarding ini mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, dan branding guna menambah nilai jual dan daya saing. “Kegiatan ini sejalan dengan visi Bali sebagai pulau digital yang menekankan transformasi digital dan kolaborasi lintas sektor,” jelasnya.
Dari sisi nasional, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, M. Riza Adha Damanik, mengungkapkan bahwa UMKM memiliki peran strategis dengan jumlah sekitar 56 juta unit usaha, berkontribusi 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap 97 persen tenaga kerja.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi, mulai dari produktivitas, skala usaha, hingga akses pembiayaan dan teknologi, yang berdampak pada terbatasnya kontribusi ekspor. “Ke depan, transformasi ekosistem UMKM dilakukan secara terintegrasi melalui penguatan legalitas, sertifikasi, pembiayaan, dan pendampingan berkelanjutan,” katanya.
Program onboarding ini menghadirkan berbagai narasumber, termasuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia terkait strategi ekspor, Young Entrepreneur Academy sebagai mitra pendamping, edukasi QRIS oleh BI, serta kisah sukses UMKM binaan BI Bali, Macha Home Living.
Selain itu, sektor perbankan seperti Bank BPD Bali dan Bank Negara Indonesia turut berpartisipasi melalui sosialisasi produk pembiayaan, pembukaan booth layanan, serta penjajakan business matching bagi UMKM yang berencana mengajukan kredit pada 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Bali Jagadhita 2026, agenda tahunan yang masuk dalam kalender pariwisata Bali. Melalui pameran dan business matching, program ini diharapkan mampu mendorong UMKM naik kelas, memperluas akses pasar, serta menembus pasar global secara berkelanjutan.

