Oleh : Gatot Sundoro
iniSO.co – Setiap muslim dituntut untuk selalu menjaga dan mengendalikan segala perilaku, tindak tanduk, tingkah laku dan ucapan ucapan yang tidak baik.
Termasuk menjaga ucapan ucapan yang mempunyai dampak negatif.
Apalagi di jaman internet dengan berbagai media sosial atau media lainnya; banyak sekali bertebaran kata kata yang tidak senonoh, menghujat dan ucapan ucapan yang sama sekali jauh dari akhlak dan sikap seorang muslim sejati.
Kadangkala ucapan ucapannya dibanding bandingkan, merasa dirinya lebih baik daripada orang disekelilingnya. Tindakan yang merupakan bentuk kesombongan.
Ucapan ucapan yang berbeda dengan apa yang dilakukan ini, membuat ALLOH SWT sangat marah. Hal ini telah di firmankan ALLOH dalam Al Qur’an, surat As- Saff, ayat 2 dan 3,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
### Penjelasannya
1. Intinya: Allah menegur keras orang yang omongannya tidak sesuai kelakuan.
Di zaman Nabi, ada sebagian sahabat yang semangat bilang “kalau diperintah jihad pasti kami maju paling depan”. Tapi pas beneran diperintah, ragu. Makanya turun ayat ini.
2. Kenapa berat?
Karena 3 hal:
– Munafik kecil: bikin orang lain kecewa dan hilang kepercayaan
– Merusak dakwah: omongan tanpa bukti jadi tidak ada wibawa
– Murka Allah: disebut “sangat besar kemurkaan” karena ini soal kejujuran
3. Kaitan dengan As-Saff ayat 4
Ayat setelahnya langsung muji orang yang berbaris rapi di jalan Allah. Jadi kontrasnya jelas: Allah suka yang “ucapan = perbuatan”.
### Pelajaran buat kita sekarang
– Di kerjaan: bilang “deadline aman” tapi kerjaannya belum
– Di keluarga: nyuruh anak shalat tapi kita sendiri main HP
– Di sosmed: posting nasihat tapi kelakuannya beda
Ulama bilang: “Sedikit amal dengan ikhlas lebih baik daripada banyak omongan tanpa bukti.”
### Doa pencegahnya
Nabi sering berlindung: “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ilmi la yanfa’, wa qalbin la yakhsya’, wa nafsin la tasyba’, wa da’watin la yustajabu laha”
“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan”
Ini beberapa hadits yang nyambung sama As-Saff 61:2-3 tentang ucapan ≠ perbuatan:
### 1. Tanda orang munafik
HR. Bukhari 33 & Muslim 59
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada 3: jika bicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, jika diberi amanah dia khianat.”
Pelajaran: Bohong = ucapan tidak sesuai kenyataan. Ingkar janji = ucapan tidak sesuai perbuatan.
### 2. Orang yang paling rugi di akhirat
HR. Bukhari 3267 & Muslim 2989
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lalu dicampakkan ke neraka. Ususnya terburai dan dia berputar-putar di neraka seperti keledai memutar penggilingan. Penghuni neraka bertanya: ‘Wahai fulan, kenapa kamu? Bukankah kamu dulu yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?’
Dia menjawab: ‘Iya, aku menyuruh kebaikan tapi aku sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran tapi aku sendiri mengerjakannya.'”
Pelajaran: Ini pas banget sama As-Saff 61:2. Nyuruh orang tapi diri sendiri nggak jalanin.
### 3. Jaga lisan = jaga amal
HR. Tirmidzi 2616
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Celakalah manusia karena hasil lisan mereka.”
Dan di hadits Muadz bin Jabal: “Maukah aku tunjukkan kepadamu kunci semua itu?” Lalu beliau pegang lisannya dan berkata “Tahan ini.”
### 4. Beratnya amanah dakwah
HR. Muslim 2341
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya…”
### Ringkasnya 3 poin penting:
1. Konsisten: Omongan harus ada buktinya. Sedikit tapi dikerjakan > banyak tapi wacana.
2. Jujur sama diri sendiri: Kalau belum mampu, bilang “insyaAllah saya belajar” jangan janji gede.
3. Teladan dulu baru dakwah: Orang lebih lihat kelakuan kita daripada ceramah kita.
Allah nggak minta kita sempurna. Tapi minta kita jujur dan terus berusaha nyamain ucapan dengan perbuatan.
Intinya: ilmu nggak ada gunanya kalau cuma numpuk di kepala atau jadi pajangan ijazah. Tujuan utama belajar itu biar berubah jadi perbuatan.
3 poin penting dari kalimat ini:
1. Belajar → Paham → Amal
Ilmu tanpa amal itu kayak punya kompas tapi nggak jalan. Nanti ilmunya bisa jadi hujjah buat kita sendiri.
2. Menghindari “ilmu buat pamer”
Kadang kita belajar biar dibilang pinter, debat menang, atau konten. Padahal Imam Sofyan ngingetin: niatnya balikin ke amal.
3. Amal sekecil apapun
Nggak harus langsung jadi ustadz atau bikin karya besar. Amal bisa sesederhana: udah tau “jujur itu baik” ya dipraktikin pas jualan, udah tau “sabar” ya ditahan pas emosi.
Ini juga nyambung sama kaidah ulama: “Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasysyajari bilaa tsamarin” = Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
*Dampak ucapan dan perbuatan yang berbeda* itu besar, karena orang menilai kita dari konsistensi keduanya.
Ini yang biasanya terjadi:
1. Kepercayaan turun
Kalau yang diomongin A tapi dilakuin B, orang jadi ragu. Sekali dua kali masih dimaafkan. Kalau sering, lama-lama kata-katamu nggak ada bobotnya lagi. “Nanti aku bantu” jadi dianggap angin lalu.
2. Hubungan jadi renggang
Di keluarga, kerjaan, pertemanan. Teman, pasangan, tim bakal merasa dibohongi atau dimanipulasi. Muncul rasa kecewa → curiga → menjauh.
3. Reputasi dan kredibilitas rusak
Di tempat kerja atau masyarakat, orang yang omongannya beda sama kelakuannya cepat dapat cap “nggak bisa dipegang omongannya”. Giliran butuh dipercaya pegang proyek atau tanggung jawab, orang mikir 2x.
4. Dampak ke diri sendiri
Kita sendiri jadi stres karena harus “menutupi”. Ada rasa bersalah, cemas ketahuan, dan kehilangan integritas. Lama-lama kita juga bingung sama jati diri sendiri.
5. Memberi contoh buruk
Anak, adik, tim kerja meniru. Kalau pemimpin bilang “jujur” tapi korupsi, atau bilang “disiplin” tapi telat terus, standarnya ikut turun.
Sederhananya: ucapan membangun ekspektasi, perbuatan membuktikan. Kalau beda, yang diingat orang adalah perbuatannya.
Ada pepatah Jawa yang pas: ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana → harga diri ada di lisan, harga raga ada di perbuatan.

