Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo *)
“Dosa adalah menyakiti makhluk lain. Manusia dan binatang,” tulis Kartini di surat yang ditulis untuk sahabat penanya di Belanda, Estelle Zeehandelaar, tertanggal 6 November 1899.
——
Saban tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Ada hal rutin yang kerap dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini sejak masih anak-anak. Hampir setiap hari Minggu, Kartini diajak ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara, blusukan ke kampung-kampung untuk bertemu rakyat kalangan bawah.
Suatu hari, Kartini menyaksikan seorang anak berusia enam tahun yang harus bekerja menjual rumput untuk membantu perekonomian keluarganya. Kartini menjadi tahu realitas sesungguhnya di masyarakat. Kartini sangat tersentuh pada kehidupan rakyat yang dipimpin ayahnya di Jepara. Tak jarang Kartini membersamai rakyat menanam padi, mengetam padi, bahkan merumput. Hal sederhana, tapi sangat menggembirakan hati rakyat karena mereka merasa dianggap ada, diperhatikan, dan diayomi oleh pemimpin serta keluarganya.
Dalam pikiran yang dituangkan dalam suratnya untuk Rosa Abendanon tertanggal 8 April 1902, Kartini menceritakan apa yang dilihat oleh matanya. Perjalanan itu tidak hanya menjadi sekadar blusukan belaka, tapi menjadi sebuah perjalanan spiritual untuk Kartini. ”Di sekeliling saya ada banyak orang menderita. Saya malu sekali jika memikirkan kepentingan sendiri,” tulis Kartini.
Kartini sangat menyukai dan terinspirasi buku Max Havelaar karya Multatuli yang menggambarkan penderitaan masyarakat bawah. ”Kerja! Kerja! Kerja! Berjuanglah membebaskan diri! Setelah kamu membebaskan diri, kamu akan dapat menolong orang lain! Bekerja!” tegas Kartini.
Momen Idulfitri memiliki kesan mendalam bagi Kartini. Pada perayaan hari besar itu biasanya masyarakat Jepara yang mayoritas beragama Islam menghias dan membersihkan rumah mereka, termasuk juga menyediakan hidangan di meja untuk tetangga dan kerabat yang bersilaturahmi. Masyarakat saling berkunjung untuk meminta dan memberi maaf atas dosa serta khilaf yang pernah dilakukan. Kartini menyaksikan masyarakat Jepara menyambut Idulfitri dengan sukacita.
Kartini memiliki definisi tentang dosa. Menurutnya, semua perbuatan yang menyebabkan makhluk hidup ciptaan Tuhan menderita adalah sebuah dosa. Kartini membaginya menjadi dosa agama, dosa pribadi, dosa di lingkungan keluarga, hingga dosa di lingkungan sosial kenegaraan. Semua itu Kartini tulis dalam surat-suratnya yang dikirim kepada Rosa Abendanon dan Estelle Zeehandelaar.
Dalam pemikiran Kartini, agama yang seharusnya menjauhkan kita dari dosa, malah menjadi alasan meligitimasi kita berbuat dosa. Kartini sedih ketika agama membuat pemeluknya saling berselisih. Kartini pernah “mogok” mengaji dan berpuasa ketika belum menemukan makna serta hakikat mengaji dan berpuasa. Dia berhenti membaca dan menghafal Alquran karena tidak memahami artinya.
Setelah mendapat pencerahan, Kartini menjadi tahu dan mengerti makna berpuasa. Kartini menjadi paham jika berpuasa berarti menahan lapar dan nafsu yang berarti kemenangan bagi rohani atas jasmani. Dengan berkekurangan, menderita, dan tafakur akan diperoleh cahaya. Kartini memaknai berpuasa dengan bimbingan gurunya, Kiai Sholeh Darat.
Kartini menuntut Kiai Sholeh Darat untuk memberitahu dan mengajarkan makna semua perintah yang diberikan. Kartini ingin gurunya memberitahukannya arti surat-surat yang dibaca dan dihafalkan. Kartini juga berjanji akan belajar semakin giat jika gurunya mau menerjemahkan ayat demi ayat Alquran. Permintaan Kartini menjadi simbol perlawanan terhadap putusan pemerintah Hindia Belanda yang melarang menerjemahkan Alquran di Hindia Belanda, khususnya di tanah Jawa.
Kiai Sholeh Darat pun sedikit demi sedikit mengajarkan. Bahkan Kiai Sholeh Darat menghadiahi Kartini Alquran terjemahan bahasa Jawa pada saat hari pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang.
“Alquran terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari Alquran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila! Mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya,” protes Kartini dalam suratnya kepada Zeehandelaar.
Kartini menginginkan untuk perempuan di sekitarnya dapat mempelajari banyak bahasa. Menurutnya dengan belajar banyak bahasa, akan mudah memahami segala hal dan memudahkan mengerti buah pikiran dari penulis. Kumpulan surat-surat yang ditulis Kartini dibukukan oleh Rosa Abendanon dan diberi judul Door Duisternis tot Licht yang berarti Habis Gelap Terbitlah Terang. (*)
*) Pemimpin Redaksi suron.co

