SURON.CO, Malang – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon terjadi di Kota Malang. Satu di antara yang terdampak adalah pelaku usaha tempe dan olahannya di Sanan, Kota Malang. Akibat kelangkaan gas melon, mereka mengurangi tingkat produksi harian.
Mardiana, pelaku UMKM di Sanan mengungkapkan, dirinya merasa kesulitan mengakses gas elpiji 3 kg sejak sebulan belakangan ini. Sejak dua minggu terakhir, dirinya memutuskan untuk mengurangi produksi karena pasokan bahan bakar tidak lancar. Dalam sehari, ia menggunakan lima tabung gas elpiji 3 kg.
Saat stok elpiji 3 kg langka seperti sekarang, pengolahan bahan baku keripik tidak terjadwal dengan baik. Alih-alih menunggu stok gas yang tak menentu, Mardiana memilih untuk mengurangi jumlah produksinya. Setiap hari, ia harus membuat keripik lalu dipasok ke beberapa toko.
“Biasanya produksi 300 kg, sekarang menjadi 200 kg. Saya sampai suruh suami kalau keluar bawa tabung gas yang kosong. Jadi, jika sewaktu-waktu menemukan pedagang gas di pinggir jalan, bisa langsung beli,” ujarnya.
Dirinya sudah mulai langganan kepada penjual. Berdasarkan informasi yang ia terima, kelangkaan stok ini terjadi karena pemasok sempat libur mengirimkan barang saat tanggal merah.
Mardiana enggan pindah ke tabung gas berukuran 5,5 kg. Menurutnya, harga tabung gas ukuran 5,5 kg tersebut jauh lebih mahal. Tidak sebanding dengan ongkos operasional dan produksi.
Pelaku usaha lainnya, Sentot juga merasakan dampak yang sama akibat kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg. Sentot berburu tabung elpiji 3 kg ke luar kampung. Hasilnya, nihil. Kalaupun dapat yang bersubsidi, harganya melonjak hingga Rp 22 ribu. “Ada perajin keripik yang tidak berproduksi karena kesulitan mendapatkan elpiji,” ujar Sentot.
Sentot merasakan sendiri betapa sulitnya mendapatkan elpiji bersubsidi sejak libur Tahun Baru Islam. Bila kelangkaan terus berlanjut, Sentot terpaksa berencana menggunakan elpiji 12 kg, meski harganya mahal.
Kelangkaan terparah, terjadi sejak dua hari ini. Untungnya, pangkalan elpiji memberi jatah pada pelanggan yang perajin tempe. Namun, penjual makanan dan gorengan yang bukan pelanggan pangkalan elpiji tidak dilayani. Imbasnya, mereka kebanyakan terpaksa berhenti jualan lantaran tak ada elpiji murah untuk memasak.
Perajin keripik tempe lainnya, Trinil Sri Wahyuni mengaku merasakan sulitnya mendapatkan elpiji bersubsidi. Kini, pembelian elpiji 3 kg hanya melayani pelanggan, itupun jumlahnya dibatasi.
Di sentra industri tempe dan keripik tempe Sanan, Malang, ada 530 perajin. Kebutuhan elpiji 3 kg mencapai 700 tabung per hari. Gas elpiji murah diperlukan untuk memasak kedelai dan menggoreng keripik tempe. Proses memasak kedelai bisa selama 7 jam.(*)

