Minke.id – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati terus menunjukkan komitmen dalam mengakselerasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Melalui program unggulan bertajuk Kediri City Tourism (D’Cito), Pemkot Kediri berupaya menghadirkan konsep wisata perkotaan terintegrasi yang memanfaatkan seluruh potensi lokal untuk menciptakan pengalaman wisata yang utuh dan berkelanjutan.
Langkah strategis pertama dalam mewujudkan D’Cito adalah penataan ulang Jalan Dhoho, kawasan legendaris yang menjadi jantung aktivitas ekonomi warga Kediri.
Konsep penataan Jalan Dhoho diarahkan agar menjadi ikon wisata urban setara dengan Malioboro Yogyakarta, dengan menghadirkan area pedestrian yang nyaman, estetik, dan sarat nilai budaya.
Menurut Wali Kota Vinanda Prameswati—yang akrab disapa Mbak Wali—Jalan Dhoho akan difungsikan sebagai etalase produk UMKM unggulan dari kampung-kampung tematik seperti Kampung Batik, Kampung Tenun, Kampung Tahu Kuning, hingga Kampung Jamu.
Integrasi ini diharapkan mampu memperkuat branding Kota Kediri sekaligus membuka akses pasar baru bagi para perajin dan pelaku UMKM.
“Jalan Dhoho nanti bukan sekadar tempat belanja, tapi juga ruang hidup budaya dan ekonomi kreatif yang tumbuh dari masyarakat sendiri,” ungkap Mbak Wali, Selasa (11/3/2025).
Untuk memastikan penataan berjalan inklusif, Mbak Wali bersama tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) turun langsung meninjau kawasan Stasiun Kediri yang terhubung dengan Jalan Dhoho.
Ia berdialog dengan tukang becak, ojek konvensional, ojek online, dan pedagang guna memastikan kebijakan tidak menyingkirkan mata pencaharian warga.
“Kita ingin penataan ini tidak hanya indah, tetapi juga berdampak positif bagi warga sekitar. Semua harus merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Penataan pedestrian akan dilakukan mulai dari Tugu Kereta Api hingga ujung Jalan Stasiun Kediri, menciptakan jalur wisata pejalan kaki yang rapi, teduh, dan menarik bagi wisatawan.
Ketua RW 7 Kelurahan Balowerti, Mujianto, menyambut positif rencana ini.
“Kami mendukung penuh revitalisasi ini. Semoga warga juga dilibatkan dalam dialog agar prosesnya berjalan baik,” ujarnya.
Program D’Cito tidak hanya berfokus pada wisata perkotaan, tetapi juga mengintegrasikan tiga pilar utama pariwisata Kediri, yaitu:
- Wisata Gunung Klotok dan Goa Selomangleng, dengan nilai sejarah dan alam yang kuat.
- Pemanfaatan Sungai Brantas sebagai area rekreasi, edukasi, dan budaya lokal.
- Kawasan Jalan Dhoho sebagai pusat wisata urban dan ekonomi kreatif.
Sinergi ketiganya diharapkan menghadirkan pengalaman wisata lengkap bagi pengunjung—dari wisata sejarah dan alam hingga belanja produk lokal khas Kediri.
Untuk memastikan pariwisata juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, Pemkot Kediri memperkuat sektor ekonomi kreatif melalui dua program unggulan:
- Kediri Kreatif Network (KEREN) – wadah pengembangan 17 subsektor ekonomi kreatif, yang bertujuan memperluas jejaring dan pasar bagi pelaku UMKM.
- Dana Bergulir KUMAPAN (Kredit Usaha Masyarakat Profesional Aman dan Nyaman) – program pembiayaan mikro untuk membantu UMKM mengembangkan usaha secara aman dan produktif.
“Dengan dukungan modal, pelatihan, dan jaringan pasar, kita ingin pelaku UMKM naik kelas dan menjadi bagian penting dari wajah pariwisata Kediri,” tutur Mbak Wali.
Melalui kombinasi antara pembangunan infrastruktur wisata, pemberdayaan UMKM, dan penguatan ekonomi kreatif, program D’Cito diharapkan menjadi motor penggerak utama menuju Kota Kediri yang Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni (MAPAN).
“D’Cito bukan sekadar program pariwisata, tapi gerakan bersama untuk membangun kebanggaan dan kesejahteraan warga Kediri,” tutup Mbak Wali dengan optimistis.

