iniSO.co – Gelaran Proliga 2026 Seri 6 di GOR Utama Bojonegoro, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, tak sekadar menjadi hiburan masyarakat. Ajang bola voli tingkat nasional ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian warga lokal, khususnya pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Puluhan stan UMKM tampak berjajar di halaman GOR Utama Bojonegoro. Beragam jajanan, makanan, dan minuman dijajakan untuk melayani ribuan penonton dari dalam maupun luar daerah yang datang menyaksikan pertandingan Proliga 2026.
Salah satu pedagang asal Desa Ngumpakdalem, Asfi Hidaya, mengaku merasakan lonjakan omzet yang signifikan selama perhelatan berlangsung.
“Omzet harian saya meningkat. Biasanya mulai Rp 500 ribu, tapi dengan adanya Proliga 2026 bisa mencapai Rp 1 juta lebih per hari,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Asfi menuturkan, event olahraga tingkat nasional ini menjadi yang pertama kali digelar di Bojonegoro dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.
“Kalau kegiatan olahraga tingkat daerah tidak seramai ini. Per hari dagangan saya bisa dibeli lebih dari 50 orang,” kata penjual aneka gorengan sosis dan jajanan crispy tersebut.
Menurutnya, meski kerap berjualan di berbagai acara seperti pasar malam, gelaran Proliga 2026 Seri 6 di GOR Utama Bojonegoro menjadi momen paling ramai yang pernah ia alami.
Selain kuliner UMKM lokal, event ini juga diramaikan pedagang nonkuliner seperti penjual jersey klub bola voli. Hal tersebut semakin menambah geliat ekonomi di sekitar lokasi pertandingan.
Asfi berharap, ke depan semakin banyak event olahraga tingkat nasional yang digelar di Bojonegoro.
“Masyarakat bisa bekerja dan berjualan. Bahkan petugas parkir juga banyak, artinya menyerap tenaga kerja,” terangnya.
Sementara itu, penjual jersey klub bola voli, Najih Sholeh, menyampaikan dirinya kerap mengikuti event Proliga di berbagai daerah. Sebelum di Bojonegoro, seri pembuka telah digelar di Pontianak, kemudian berlanjut ke Medan, Bandung, Gresik, dan Malang.
“Penjualan jersey terbanyak ada di Pontianak, omzet bisa sampai Rp 100 juta,” ungkapnya.
Namun demikian, Najih menilai daya beli masyarakat di Bojonegoro menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
“Kalau dibandingkan Malang, Bojonegoro lebih ramai. Untuk omzet akhir masih kami hitung karena hari ini hari terakhir,” jelasnya.
Gelaran Proliga 2026 Seri 6 di Bojonegoro pun dinilai sukses, tak hanya dari sisi penyelenggaraan olahraga, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal.

