iniSO.co – Di tengah memanasnya tensi geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia, penjualan terigu nasional justru menunjukkan daya tahan yang solid. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, permintaan mulai menghangat, ditopang konsumsi rumah tangga serta geliat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bersiap memenuhi lonjakan pesanan kue dan roti.
Vice President Marketing Wilayah Indonesia Timur PT ISM Bogasari, Yulius Ronadi, mengungkapkan penjualan terigu pada Januari–Februari 2026 masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, ada pertumbuhan sekitar 3 persen untuk dua bulan pertama. Biasanya memang menjelang Ramadan permintaan mulai naik,” ujar Yulius di Surabaya, Rabu (4/3).
Menurut Yulius, awal tahun menjadi fase pemanasan sebelum memasuki Ramadan, periode ketika konsumsi bahan baku makanan meningkat signifikan. Lonjakan biasanya terjadi pada produk-produk yang berkaitan dengan pembuatan kukis, kue kering, dan roti.
Salah satu varian yang mencatat pertumbuhan paling tinggi adalah Tepung Terigu Kunci Biru kemasan satu kilogram. Produk ini banyak digunakan untuk kukis dan aneka kue kering yang mulai diproduksi lebih awal untuk menyambut Ramadan.
“Untuk Kunci Biru kemasan satu kilogram, pertumbuhannya sudah dua digit, di atas 10 persen. Ini terutama terdorong kebutuhan kukis,” jelasnya.
Secara umum, rata-rata kenaikan penjualan terigu nasional berada di kisaran 2–3 persen. Selain kemasan ritel satu kilogram, permintaan dari industri biskuit juga meningkat, khususnya untuk kemasan 2 hingga 5 kilogram.
Di tengah konflik geopolitik global, termasuk potensi gangguan distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz, Yulius memastikan harga terigu hingga saat ini masih stabil.
Ia menjelaskan, dampak paling mungkin dari konflik tersebut adalah kenaikan ongkos transportasi akibat fluktuasi harga bahan bakar. Jika jalur pelayaran strategis terganggu, kapal kargo berpotensi memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang tentu meningkatkan biaya distribusi.
“Kalau sampai saat ini belum berdampak langsung. Yang paling mungkin terpengaruh itu ongkos transportasi karena faktor bahan bakar,” katanya.
Dari sisi pasokan, bahan baku gandum relatif aman. Bogasari memasok gandum dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Hingga awal 2026, tidak ada gangguan signifikan terhadap suplai dari negara-negara tersebut.
Segmen UMKM menjadi penyerap terbesar terigu dengan kontribusi sekitar 60–65 persen dari total penjualan. Industri besar menyumbang sekitar 20–25 persen, sementara sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga.
“UMKM memang paling dominan. Retail juga tinggi, industri juga tetap tumbuh,” ujar Yulius.
Untuk wilayah Indonesia Timur, kontribusi terbesar masih berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan porsi sekitar 70 persen. Selebihnya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Dari sisi konsumsi, prospek 2026 diperkirakan tetap positif. Selain nasi sebagai makanan pokok, mie berbasis terigu menjadi konsumsi terbesar kedua masyarakat Indonesia. Status terigu sebagai bahan pokok strategis turut memperkuat permintaan domestik.
Harga terigu sendiri dipengaruhi tiga faktor utama, yakni harga gandum global, keseimbangan suplai dan permintaan, serta biaya transportasi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan gangguan cuaca di negara produsen, seperti kekeringan di Australia, dapat memicu kenaikan harga akibat turunnya produksi.
Dengan pasokan yang terjaga dan permintaan domestik yang solid, Bogasari optimistis kinerja penjualan terigu tetap tumbuh sepanjang Ramadan hingga akhir 2026.
Tak hanya fokus pada penjualan, perusahaan juga mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui program Bogasari Baking Center (BBC). Melalui program ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai pemilihan jenis tepung sesuai kebutuhan produk.
Yulius menjelaskan, tepung berprotein tinggi, sedang, dan rendah memiliki fungsi berbeda untuk roti, kue, maupun mie. Edukasi tersebut penting agar pelaku usaha, khususnya UMKM dan industri rumahan, dapat menghasilkan produk yang lebih optimal dan konsisten.
“Semua jenis terigu bisa dipakai, tapi belum tentu optimal. Melalui BBC, kami edukasi supaya pelaku usaha tahu peruntukan yang paling tepat,” katanya.
Ia menambahkan, tidak sedikit peserta pelatihan yang awalnya sekadar menekuni hobi membuat kue, kemudian berkembang menjadi pelaku usaha rumahan, naik kelas menjadi UKM, hingga mampu menyerap tenaga kerja.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pertumbuhan penjualan terigu nasional jelang Ramadan 1447 H menegaskan bahwa konsumsi domestik dan kekuatan UMKM tetap menjadi jangkar yang menjaga daya tahan industri pangan Indonesia.

