iniSO.co – Bulan suci Ramadan membawa berkah bagi para perajin sarung goyor tenun tradisional di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Permintaan sarung goyor Jombang melonjak tajam hingga lebih dari 100 persen dibandingkan bulan-bulan biasa.
Lonjakan pesanan sarung goyor Ramadan ini membuat para perajin harus bekerja ekstra. Produksi rumahan yang biasanya menghasilkan sekitar 54 lembar sarung per bulan kini ditingkatkan untuk memenuhi permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Pesanan sarung goyor tenun tradisional datang dari berbagai kalangan. Mulai dari pembeli perorangan untuk kebutuhan ibadah Salat Id, pondok pesantren, hingga sejumlah perusahaan yang menjadikan sarung goyor sebagai suvenir bagi karyawan.
Tak hanya dari wilayah Jombang, permintaan juga berdatangan dari luar daerah seperti Banyumas hingga Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa sarung goyor tenun asal Desa Penggaron semakin dikenal luas.
Pengelola usaha sarung goyor tenun, Siti Khoirul Uma, mengaku bersyukur atas peningkatan pesanan yang signifikan pada Ramadan tahun ini.
“Alhamdulillah pesanan tahun ini sangat banyak, terutama saat Ramadan. Kenaikannya lebih dari 100 persen. Sarung goyor ini bisa menyesuaikan cuaca, kalau musim panas terasa adem, kalau musim dingin terasa hangat,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Tingginya minat pembeli tidak lepas dari keistimewaan sarung goyor yang dikenal mampu menyesuaikan suhu tubuh dengan kondisi cuaca. Karakter kain yang adem saat panas dan hangat saat dingin membuat sarung ini nyaman digunakan sepanjang musim, terutama saat Ramadan hingga Idulfitri.
Proses pembuatan sarung goyor Jombang juga masih mempertahankan teknik tradisional. Mulai dari pengolahan benang, penggulungan manual, hingga proses menenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Setiap lembar sarung dikerjakan dengan ketelitian tinggi demi menjaga kualitas dan motif khasnya.
Dengan proses yang detail dan kualitas premium, sarung goyor tenun tradisional ini dibanderol sekitar Rp250 ribu per lembar. Meski tergolong premium, harga tersebut sebanding dengan kenyamanan dan nilai budaya yang ditawarkan.
Para perajin berharap tren peningkatan permintaan sarung goyor tidak hanya terjadi saat Ramadan, tetapi juga berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Keberlanjutan pesanan dinilai penting untuk menjaga stabilitas pendapatan sekaligus melestarikan warisan budaya tenun tradisional di Kabupaten Jombang.
Lonjakan permintaan sarung goyor Ramadan 2026 ini menjadi bukti bahwa produk UMKM berbasis kearifan lokal tetap memiliki daya saing kuat di tengah persaingan industri tekstil modern. Selain mendongkrak ekonomi keluarga perajin, meningkatnya minat pasar juga memperkuat eksistensi sarung goyor Jombang sebagai salah satu produk unggulan daerah.

