iniSO.co – Denyut aktivitas di rumah produksi songkok Kapu Tuban milik Manaf Abdi (66) mulai terasa lebih sibuk dari biasanya. Tumpukan bahan kain bludru, batik, hingga songkok setengah jadi terlihat memenuhi ruang kerja sederhananya di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.
Permintaan songkok atau peci tradisional khas Tuban itu mulai meningkat seiring mendekatnya Hari Raya Idulfitri. Manaf sendiri merupakan satu dari sekian pengrajin yang terus bertahan menjaga tradisi kerajinan lokal tersebut. Tahun ini, ia bisa tersenyum karena pesanan yang masuk lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah mas, pesanan semakin meningkat kalau dibanding tahun-tahun kemarin,” ujar Manaf saat ditemui di tempat produksinya.
Hingga saat ini, jumlah pesanan yang diterima Manaf telah mencapai sekitar 60 hingga 70 kodi. Jika dihitung, satu kodi berisi 20 buah songkok. Artinya, lebih dari seribu songkok tengah ia siapkan untuk memenuhi permintaan pasar menjelang Lebaran.
Pesanan tersebut datang dari berbagai daerah. Tidak hanya pembeli lokal di Tuban, tetapi juga dari luar kota. Selain perorangan, banyak toko yang telah lama menjadi mitra penjualannya turut memesan dalam jumlah besar.
“Rata-rata dari lokal kota, tapi ada juga dari luar kota. Selain perorangan, banyak juga yang dari toko,” jelasnya.
Beberapa toko yang rutin mengambil produk dari tempatnya antara lain toko di kawasan Kraton Kabupaten Lamongan, kawasan Bravo 2, City Mall, hingga area wisata religi Sunan Bonang Tuban.
Di tangan Manaf, songkok tidak hanya dibuat dalam satu model. Ia menghadirkan berbagai jenis dengan ciri khas tersendiri. Mulai dari songkok bludru hitam klasik, songkok batik, hingga model bludru profil yang memiliki detail tambahan di bagian pinggir.
Menurutnya, model bludru profil masih jarang dibuat oleh pengrajin lain, sehingga menjadi pembeda produknya di pasaran.
“Jenisnya banyak. Ada bludru, batik, ada juga bludru profil yang seperti ini. Itu jarang dibuat oleh pengrajin lain,” ungkapnya.
Meski terus berinovasi, Manaf tetap mempertahankan kualitas bahan dan kenyamanan pemakaian. Prinsip tersebut membuat songkok buatannya dikenal dengan sebutan “Adem Ayem”.
Harga songkok yang ditawarkan bervariasi, tergantung bahan dan tingkat kesulitan pembuatan. Untuk model standar, harga berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per buah. Sementara model premium dengan detail khusus bisa mencapai Rp75 ribu.
“Kalau harga tergantung kualitas bahan dan modelnya. Ada yang Rp30 ribu, Rp35 ribu, sampai Rp75 ribu,” terang Manaf.
Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 20 hingga 30 songkok. Proses produksi dilakukan secara bertahap untuk menjaga kualitas hasil akhir.
Salah satu pembeli, Rahmad, mengaku sengaja datang langsung ke tempat produksi Manaf untuk membeli peci. Menurutnya, songkok buatan pengrajin Kapu memiliki kualitas yang berbeda dibanding produk lainnya.
“Produknya bagus, dipakai enak dan adem di kepala. Motif batiknya juga khas Tuban,” ujarnya.
Soal harga, Rahmad menilai tidak jauh berbeda dengan yang dijual di toko. Namun ia lebih memilih membeli langsung dari pengrajin. “Kalau butuh peci biasanya beli di sini. Kadang juga sekalian mencarikan untuk teman atau saudara,” katanya.
Menjelang Lebaran, Manaf memperkirakan pesanan masih akan terus bertambah. Tradisi mengenakan songkok saat salat Idulfitri maupun saat bersilaturahmi menjadi faktor utama meningkatnya permintaan setiap tahun.
Kerajinan songkok Kapu Tuban pun diharapkan tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal.

