iniSO.co – Momentum mudik Lebaran 2026 tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga mendorong geliat ekonomi lokal, khususnya sektor kuliner. Di Kabupaten Magetan, kuliner legendaris Ayam Panggang Bu Setu diserbu pemudik yang ingin menikmati cita rasa khas yang telah bertahan puluhan tahun.
Lonjakan pengunjung mulai terlihat sejak dua hari sebelum Lebaran hingga lima hari setelahnya. Para pemudik yang melintas di jalur Magetan menyempatkan diri singgah, menjadikan tempat ini sebagai destinasi wajib saat pulang kampung.
Di balik ramainya kunjungan, tersimpan perjalanan panjang usaha keluarga yang telah berdiri sejak 1990-an. Generasi kedua pengelola, Subiyanto, menyebut usaha ini dirintis oleh orang tuanya dari berjualan keliling hingga berkembang menjadi usaha kuliner yang dikenal luas.
“Awalnya dari jualan keliling, lalu berkembang dengan promosi dari mulut ke mulut sampai dikenal seperti sekarang,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Keunikan utama Ayam Panggang Bu Setu terletak pada konsistensi dalam mempertahankan metode memasak tradisional. Proses pemanggangan masih menggunakan kayu bakar keras seperti mahoni dan jati, yang menghasilkan aroma khas dan tingkat kematangan yang merata.
“Meski sekarang sudah modern, kami tetap menggunakan kayu bakar agar cita rasa dan ciri khas tetap terjaga,” jelas Subiyanto.
Salah satu menu andalan yang paling diburu pelanggan adalah ayam panggang bumbu rujak. Perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih yang meresap hingga ke dalam daging ayam kampung menjadikan hidangan ini favorit untuk dinikmati bersama keluarga saat momen Lebaran.
Tingginya minat pemudik turut berdampak pada peningkatan omzet usaha. Musim mudik menjadi periode paling ramai dalam setahun, sekaligus momentum penting bagi pelaku UMKM kuliner di daerah.
Perkembangan usaha ini juga tidak lepas dari dukungan permodalan perbankan. Sejak 1992, keluarga ini telah menjalin kemitraan dengan Bank Rakyat Indonesia yang membantu memperkuat usaha dari sisi finansial.
“Dulu kami beli ayam dengan sistem utang ke tengkulak, harganya mahal. Setelah dapat pinjaman, kami bisa beli tunai dan harga jual jadi lebih terjangkau,” ungkap Subiyanto.
Seiring waktu, akses pembiayaan dan layanan digital dari BRI turut mendorong pengembangan usaha, mulai dari perluasan lahan hingga pembangunan fasilitas restoran yang lebih nyaman bagi pelanggan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung UMKM melalui pembiayaan dan pendampingan berkelanjutan.
“Kami terus mendukung sektor produktif melalui penyaluran kredit dan digitalisasi. Kisah Ayam Panggang Bu Setu menjadi contoh nyata bagaimana pembiayaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Hingga Desember 2025, BRI tercatat telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60 persen penyaluran tersebut difokuskan pada sektor produksi.
Fenomena ramainya kuliner legendaris saat mudik Lebaran ini menunjukkan bahwa tradisi pulang kampung tidak hanya menggerakkan mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah. Kuliner khas seperti Ayam Panggang Bu Setu pun terus menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita hangat perjalanan mudik di Indonesia.

