iniSO.co – Harga plastik di Ngawi melonjak tajam dalam dua pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku impor di tengah konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di Pasar Besar Kota Ngawi, lonjakan harga bahkan mencapai lebih dari 50 persen. Kondisi ini mulai dirasakan pedagang sejak awal Ramadan dan terus berlanjut hingga setelah Lebaran.
Slamet, pemilik Toko Sumber Abadi Plastik, mengatakan kenaikan tertinggi terjadi pada plastik berbahan murni.
“Kenaikan tertinggi pada plastik murni dari Rp35.000 menjadi Rp56.000 per kilogram,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Slamet menjelaskan, kenaikan harga plastik disebabkan terganggunya pasokan biji plastik impor yang berdampak langsung pada distribusi di tingkat pedagang.
Tidak hanya plastik murni, sejumlah produk turunan juga ikut mengalami kenaikan harga. Kantong kresek berbahan daur ulang yang sebelumnya dijual Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram kini naik menjadi Rp27.000 per kilogram.
Sementara itu, harga gelas plastik melonjak dari sekitar Rp13.000 menjadi Rp21.000 per pak.
“Distribusi sering terlambat. Kadang kami pesan, katanya ada stok, tapi setelah ditunggu barang tidak datang,” keluhnya.
Ia mengaku mendapat informasi dari pihak pabrik bahwa gangguan terjadi pada pengiriman bahan baku biji plastik impor ke Indonesia.
Lonjakan harga plastik Ngawi ini turut dikeluhkan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada plastik sebagai bahan kemasan produk.
Yanti, pelaku UMKM makanan ringan, mengaku kenaikan harga plastik berdampak langsung pada biaya produksi usahanya.
“Naiknya harga plastik menjadikan ongkos produksi kami tambah tinggi. Kalau kami naikkan harga, pembeli bisa berkurang,” ujarnya.
Menurutnya, plastik merupakan kebutuhan utama dalam pengemasan sehingga kenaikan harga sulit dihindari.
Pelaku UMKM kini dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung beban biaya produksi yang semakin tinggi. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada keberlangsungan usaha kecil di daerah.
Selain harga plastik, fluktuasi bahan pokok juga turut menambah tekanan bagi pelaku usaha.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa gangguan rantai pasok global tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga merembet hingga sektor usaha kecil di daerah seperti Ngawi.
Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku dan melindungi pelaku UMKM dari tekanan biaya yang semakin meningkat.

