iniSO.co – UMKM Casila Indonesia asal Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di pasar global. Brand fesyen yang fokus pada busana anak ini kini tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga telah merambah pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, hingga Jepang.
Dirintis sejak 2013 oleh Arif Susanto bersama istrinya Linda Casila Sakti, Casila Indonesia terus berkembang dari usaha kecil menjadi brand yang memiliki pasar luas. Menjelang Lebaran, permintaan bahkan bisa mencapai ribuan potong baju anak.
Awalnya, Casila hanya berperan sebagai reseller produk fesyen. Namun pada 2017, Arif dan Linda mulai memproduksi brand sendiri dengan fokus pada busana anak, khususnya gamis. Keputusan tersebut didorong oleh potensi pasar pakaian anak yang dinilai lebih besar.
“Kalau anak, satu model bisa beli beberapa warna sekaligus. Peluangnya lebih besar dibanding pakaian dewasa,” ujar Linda.
Produksi pun berkembang pesat, dari skala kecil hingga sempat menembus 20 ribu potong per minggu sebelum pandemi. Jaringan reseller mereka tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.
Namun, pandemi COVID-19 menjadi titik balik. Banyak reseller yang tidak mampu bertahan, sehingga memaksa Casila beradaptasi dengan mengelola penjualan secara mandiri melalui marketplace, termasuk Shopee.
Arif mengungkapkan, pihaknya melakukan riset hampir satu tahun untuk memahami pola pasar digital. Hasilnya mulai terlihat pada Lebaran 2024, ketika penjualan meningkat signifikan.
Pada tiga bulan pertama 2026, penjualan melalui marketplace telah menembus lebih dari 2.000 potong. Saat ini, sebagian besar omzet berasal dari penjualan online, meski Casila masih didukung hampir 100 reseller aktif.
Casila Indonesia kini mengambil ceruk pasar yang spesifik, yakni gamis anak untuk kebutuhan umroh. Segmen ini dinilai memiliki tingkat pembelian lebih tinggi karena kebutuhan pakaian yang lebih dari satu.
Produk Casila dikenal dengan desain simpel, warna lembut seperti earth tone, serta tidak mengikuti tren sesaat, sehingga tetap relevan dalam jangka panjang.
Selain fokus bisnis, Casila juga mengusung misi sosial dengan memberdayakan tenaga kerja lokal. Saat ini, terdapat delapan karyawan di toko serta kerja sama dengan tiga hingga lima rumah jahit di sekitar desa.
“Semua produk kami lokal, bukan impor,” tegas Linda.
Sebagian produksi memang dilakukan melalui makloon di Bandung, namun Casila tetap berkomitmen menggunakan 100 persen tenaga kerja lokal.
Keberhasilan Casila menembus pasar internasional juga didukung program ekspor dari platform digital. Melalui sistem tersebut, pengiriman produk menjadi lebih mudah.
“Dari Malang cukup kirim ke Jakarta, nanti diteruskan ke luar negeri,” jelas Arif.
Selain Casila Indonesia, mereka juga mengembangkan beberapa sister brand seperti Bebikulucu untuk pakaian harian anak, Kusukasih untuk remaja, serta Alhafidzku yang fokus pada busana anak laki-laki.
Keberhasilan Casila Indonesia menjadi bukti bahwa UMKM desa memiliki potensi besar untuk naik kelas dan bersaing di pasar global, selama mampu beradaptasi dengan digitalisasi dan memahami kebutuhan pasar.

