Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
iniSO.co – PERNAHKAH engkau membenci? Pertanyaan ini mungkin terasa naif. Sebab, siapa yang tidak pernah membenci? Di dunia yang penuh gesekan ini, di antara lalu-lalang manusia yang saling menyenggol kepentingan, di antara luka-luka kecil yang menumpuk menjadi luka besar, kebencian adalah tamu yang seringkali datang tanpa diundang. Ia menyelinap ke dalam hati, mengendap di sudut-sudutnya yang gelap, dan perlahan-lahan—sangat perlahan—ia mulai membangun sarang. Kita mungkin tidak menyadarinya. Kita mungkin mengira bahwa kebencian itu adalah hak kita, respons yang wajar atas perlakuan buruk yang kita terima. Tetapi seorang arif pernah melantunkan syair yang menghantam kesadaran kita bagai gelombang samudra yang menghantam karang:
Apabila dalam hatimu ada kebencian terhadap sesamamu, segeralah engkau membersihkannya sebelum kebencianmu membakar semua pahalamu. Ketahuilah, sesungguhnya semua yang terjadi atas kehendak-Nya.
Jika yang terlihat perbuatan dari makhluk-makhluk-Nya, tapi engkau tidak sedikit pun melihat perbuatan Allah yang dilewatkan melalui makhluk-makhluk-Nya, maka berpikirlah adakah debu dalam hatimu sampai-sampai engkau tidak melihat kuasa Tuhanmu?
Sungguh janganlah membenci terhadap sesamamu, karena engkau tidak punya hak di dalamnya.
Syair ini bukanlah nasihat moral yang biasa kita dengar dari mimbar-mimbar. Ia adalah isyarah—sebuah petunjuk halus dari alam malakut, yang jika direnungkan dengan mata batin, akan menyingkapkan rahasia terdalam dari perjalanan ruhani: bahwa kebencian bukan hanya merusak hubungan kita dengan sesama, tetapi juga—dan ini yang paling penting—merusak hubungan kita dengan Allah. Bahwa kebencian adalah hijab yang menutupi pandangan kita dari af’al Allah. Dan bahwa di balik setiap orang yang kita benci, sesungguhnya ada Wajah-Nya yang sedang menanti untuk disingkapkan.
Mari kita masuki syair ini dengan kaki yang telanjang, menanggalkan alas kaki ego kita, dan berjalan di atas pasir maknanya yang panas membakar.
Api yang Membakar Pahala
Kalimat pertama syair ini adalah sebuah peringatan yang memekakkan telinga batin: Apabila dalam hatimu ada kebencian terhadap sesamamu, segeralah engkau membersihkannya sebelum kebencianmu membakar semua pahalamu. Kata-kata ini meminjam metafora api. Dan metafora ini bukanlah sekadar hiasan retoris. Ia adalah kenyataan spiritual. Dalam kosmologi tasawuf, pahala bukanlah sekadar angka yang dicatat oleh malaikat di buku catatan. Pahala adalah nur—cahaya. Setiap amal saleh menghasilkan cahaya yang disimpan di dalam hati. Hati seorang mukmin yang rajin beramal adalah seperti langit malam yang bertabur bintang. Cahaya-cahaya itu menerangi jalannya menuju Allah, menjadi bekal perjalanannya di alam kubur, dan menjadi pelita di hari kiamat.
Tetapi kebencian adalah api. Dan api, sebagaimana kita ketahui, melahap cahaya. Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, menulis dengan bahasa yang menusuk: “Hasad adalah api yang memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” Hadis Nabi Saw. yang mulia juga menegaskan: “Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR. Abu Dawud). Kebencian, yang merupakan saudara kandung dari hasad, memiliki efek yang sama. Setiap kali kita memelihara kebencian di dalam hati, kita sedang menyalakan api unggun di tengah taman pahala kita. Dan api itu, cepat atau lambat, akan melahap habis seluruh tanaman yang telah susah payah kita tanam.
Mengapa demikian? Karena cahaya dan kegelapan tidak bisa bersatu. Pahala adalah cahaya, dan kebencian adalah kegelapan. Hati yang dipenuhi kebencian adalah hati yang gelap. Ia tidak bisa menjadi tempat bagi cahaya pahala. Maka, setiap kali seorang hamba membiarkan kebencian bersemayam di hatinya, ia sedang mengusir pahala dari rumahnya sendiri. Ia seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api di dalam rumahnya sendiri, lalu heran mengapa seluruh perabotannya terbakar.
Tetapi ada makna yang lebih dalam lagi. Kebencian bukan hanya membakar pahala. Ia juga menutup pintu ma’rifah. Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam kitabnya yang agung Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa salah satu syarat utama untuk mencapai ma’rifatullah—pengenalan langsung kepada Allah—adalah hati yang bersih dari segala sesuatu selain Dia, termasuk dari kebencian terhadap sesama makhluk. Sebab, hati yang masih terikat oleh kebencian terhadap makhluk berarti masih terikat oleh makhluk itu sendiri. Ia masih memandang makhluk sebagai entitas yang mandiri, yang bisa menjadi objek cinta atau objek benci. Padahal, dalam tauhid sejati, tidak ada entitas mandiri selain Allah. Semua makhluk hanyalah mazhhar—tempat penampakan—dari af’al Allah. Maka, membenci makhluk berarti membenci tajalli Allah—meskipun sang pembenci tidak menyadarinya.
Di sinilah letak bahaya terbesar dari kebencian. Ia bukan hanya menghilangkan pahala, tetapi juga menutup pintu menuju Allah. Orang yang membenci sesamanya tidak akan bisa melihat Allah, karena hatinya telah tertutup oleh hijab kebencian. Sebagaimana sabda Nabi Saw.: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Dan salah satu bentuk kesombongan adalah merasa diri lebih baik dari orang yang dibenci, merasa berhak untuk membenci, merasa memiliki hak untuk menghakimi. Kebencian adalah api, dan api itu tidak hanya membakar pahala—ia juga membakar hubungan kita dengan Yang Maha Pengasih.
Semua yang Terjadi Atas Kehendak-Nya
Di tengah peringatan keras itu, syair ini menyelipkan sebuah kalimat yang tampak sederhana tetapi memiliki kedalaman samudra: Ketahuilah, sesungguhnya semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Kalimat ini adalah kunci yang membuka semua pintu yang terkunci. Ia adalah fondasi dari tauhid af’al—pengesaan terhadap perbuatan Allah. Bahwa tidak ada satu pun peristiwa di alam semesta ini, sekecil apa pun, yang terjadi di luar kehendak dan izin Allah.
Al-Qur’an menegaskan dengan bahasa yang tak terbantahkan: “Dan tidak ada suatu apa pun melainkan dari sisi Kami-lah perbendaharaannya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu” (QS. Al-Hijr: 21). Juga firman-Nya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS. Al-Hadid: 22). Dari gempa bumi yang mengguncang hingga sehelai daun yang jatuh, dari kebaikan yang dilakukan oleh orang saleh hingga kejahatan yang dilakukan oleh orang zalim—semuanya berada dalam lingkup kehendak dan izin Allah.
Mengapa kalimat ini diselipkan di tengah pembahasan tentang kebencian? Karena inilah obatnya. Jika kita benar-benar meyakini—bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan seluruh relung hati—bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, maka kepada siapakah seharusnya kebencian itu diarahkan? Jika seseorang menyakiti kita, bukankah itu terjadi atas izin Allah? Jika seseorang berbuat zalim kepada kita, bukankah itu adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan-Nya sejak zaman azali? Maka, membenci pelaku kezaliman—tanpa melihat bahwa di balik perbuatannya ada af’al Allah—adalah bentuk kelalaian dalam tauhid.
Tentu saja, ini bukan berarti kita membenarkan kezaliman. Islam tetap mengakui adanya tanggung jawab manusiawi. Pelaku kezaliman akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Tetapi pada saat yang sama, seorang hamba yang bertauhid sejati melihat bahwa di balik perbuatan makhluk ada Perbuatan Allah. Ia melihat bahwa makhluk hanyalah alat, sabab, atau mazhhar bagi af’al Allah. Orang yang menyakitinya, dalam perspektif ini, adalah alat yang melaluinya Allah sedang mendidik, menguji, atau membersihkannya.
Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, sang Guru Terbesar, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menyingkapkan rahasia ini dengan sangat terang. Seluruh alam semesta, katanya, adalah tajalli—penampakan—dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kebaikan yang datang kepada kita adalah tajalli dari nama al-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan al-Rahim (Yang Maha Penyayang). Adapun ujian, kesulitan, atau bahkan kezaliman yang menimpa kita, ia adalah tajalli dari nama al-Qahhar (Yang Maha Memaksa), al-Muntaqim (Yang Maha Pembalas), atau al-‘Adl (Yang Maha Adil). Semuanya adalah Allah. Bukan dalam arti bahwa Allah adalah pelaku kezaliman—na’udzu billah—tetapi dalam arti bahwa tidak ada yang terjadi di alam ini tanpa izin dan kehendak-Nya. Dan setiap kejadian, baik yang kita sukai maupun yang kita benci, mengandung hikmah yang mungkin tidak kita pahami saat ini.
Debu di Hati yang Menutupi Pandangan
Setelah meletakkan fondasi tauhid af’al, syair ini mengajukan sebuah pertanyaan yang menusuk langsung ke jantung hati: Jika yang terlihat perbuatan dari makhluk-makhluk-Nya, tapi engkau tidak sedikit pun melihat perbuatan Allah yang dilewatkan melalui makhluk-makhluk-Nya, maka berpikirlah adakah debu dalam hatimu sampai-sampai engkau tidak melihat kuasa Tuhanmu?
Inilah inti dari seluruh syair. Ini adalah muhasabah, introspeksi diri yang paling jujur. Mengapa kita membenci? Karena kita hanya melihat perbuatan makhluk. Kita hanya melihat bahwa si A telah menyakiti kita, si B telah menzalimi kita, si C telah mengecewakan kita. Pandangan kita berhenti pada lapisan zahir dari peristiwa. Kita gagal menembus ke dalam batin, gagal melihat bahwa di balik si A, si B, dan si C, ada al-Fa’il al-Haqiqi—Pelaku Sejati, yaitu Allah.
Syair ini menggunakan kata “debu” sebagai metafora yang sangat indah dan mendalam. Debu adalah sesuatu yang sangat halus, hampir tidak terlihat oleh mata kasar. Setitik debu tidak akan menghalangi pandangan kita jika cahaya cukup terang. Tetapi jika debu itu menumpuk, sedikit demi sedikit, ia akan membentuk lapisan yang menghalangi cahaya. Demikian pula dengan hati. Debu hati bukanlah dosa-dosa besar yang terang-terangan. Ia mungkin hanya berupa ghaflah—kelalaian yang terus-menerus. Ia mungkin berupa ‘ujb—kesombongan halus yang merasa diri lebih baik. Ia mungkin berupa hiqd—dendam kecil yang kita pelihara tanpa sadar. Tetapi debu ini, jika dibiarkan menumpuk, akan menghalangi pandangan batin dari melihat af’al Allah. Maka, teguran “berpikirlah adakah debu dalam hatimu” adalah ajakan untuk muhasabah. Sebelum kita menyalahkan orang lain, sebelum kita menghakimi mereka, sebelum kita membenci mereka—tanyakanlah pada diri sendiri: mengapa aku tidak bisa melihat kuasa Tuhan di balik peristiwa ini? Mungkinkah hatiku yang kotor? Mungkinkah ada debu yang menutupi mata batiniku? Mungkinkah aku sendiri yang bermasalah?
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa hati yang bersih adalah hati yang mampu menembus hijab dan melihat af’al Allah di balik perbuatan makhluk. Sebaliknya, hati yang kotor adalah hati yang berhenti pada makhluk, yang melihat makhluk sebagai pelaku mandiri, dan karenanya mudah terseret ke dalam kebencian. Maka, membersihkan hati dari debu adalah pekerjaan seumur hidup. Ia adalah tazkiyat al-nafs, penyucian jiwa yang menjadi inti dari seluruh perjalanan tasawuf.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam ensiklopedia agungnya Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam banyak kisah para wali yang hatinya telah bersih dari debu, sehingga mereka mampu melihat af’al Allah di balik setiap peristiwa. Salah satu kisah yang paling menggetarkan adalah kisah Abu Utsman al-Hiri. Suatu hari, seseorang mencaci-makinya di depan umum. Kata-kata yang keluar dari mulut orang itu sangat kasar, sangat menyakitkan. Tetapi Al-Hiri hanya diam. Ia tidak membalas. Ia bahkan tersenyum.
Ketika murid-muridnya bertanya, “Mengapa engkau tidak marah, wahai Guru?” Al-Hiri menjawab dengan jawaban yang menggetarkan langit: “Aku melihat bahwa yang berbicara bukanlah dia. Allah sedang mengujiku melalui lisannya. Bagaimana mungkin aku marah kepada ujian dari Kekasihku?”
Inilah contoh dari hati yang bersih. Al-Hiri tidak melihat cacian itu sebagai perbuatan makhluk semata. Ia menembus hijab dan melihat bahwa di balik lisan si pencaci, ada af’al Allah yang sedang mendidik dan mengujinya. Maka, ia tidak membenci si pencaci. Ia justru menerima ujian itu dengan cinta, karena ujian itu datang dari Kekasih. Hatinya adalah cermin yang jernih, tanpa setitik debu pun. Maka, yang tampak padanya hanyalah Wajah Allah—bahkan pada wajah orang yang mencacinya.
Sebaliknya, Abu Nu’aim juga merekam kisah tentang orang-orang yang gagal melihat af’al Allah karena hati mereka penuh debu. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengeluh, selalu menyalahkan orang lain, selalu merasa menjadi korban. Hidup mereka dipenuhi oleh kebencian dan dendam. Setiap hari mereka menambah tumpukan debu di hati mereka, dan setiap hari pula pandangan mereka semakin gelap. Mereka tidak bisa melihat kuasa Allah, karena hati mereka telah tertutup oleh debu kebencian mereka sendiri.
Engkau Tidak Punya Hak untuk Membenci
Puncak dari syair ini adalah kalimat yang paling dalam, paling radikal, dan paling membebaskan: Sungguh janganlah membenci terhadap sesamamu, karena engkau tidak punya hak di dalamnya. Kalimat ini adalah pukulan telak terhadap ego. Sebab, apakah kebencian itu jika bukan klaim? Ketika kita membenci, kita sedang mengklaim bahwa kita adalah pihak yang benar. Kita sedang mengklaim bahwa kita adalah korban. Kita sedang mengklaim bahwa kita berhak menghakimi orang lain. Semua klaim ini adalah bentuk dari ana’iyyah—keakuan—yang merupakan hijab terbesar antara hamba dan Tuhannya.
Dalam ontologi sufistik, manusia pada hakikatnya adalah ‘adam—ketiadaan. Ia tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri. Al-Qur’an bertanya dengan retoris yang menusuk: “Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, ketika ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1). Manusia, sebelum diadakan oleh Allah, adalah ketiadaan murni. Ia tidak memiliki wujud, tidak memiliki hak, tidak memiliki apa pun. Semua yang ia miliki sekarang—wujud, kehidupan, kekuatan, hak—adalah pinjaman dari Allah. Jika ia tidak memiliki dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia memiliki hak untuk membenci? Bagaimana mungkin ia bisa mengklaim sesuatu sebagai miliknya, termasuk klaim atas kebenaran dan keadilan?
Semua hak adalah milik Allah. Hanya Allah yang berhak mencintai dan membenci, memberi dan menahan, memuliakan dan menghinakan. Seorang hamba yang sejati adalah yang telah menyerahkan seluruh haknya kepada Allah. Ia tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Ia tidak lagi menuntut apa pun dari makhluk. Semua tuntutannya hanya kepada Allah. Jika ia dicintai, itu adalah karunia dari-Nya. Jika ia dibenci, itu adalah ujian dari-Nya. Dalam kedua keadaan itu, ia tetap tenang, karena ia telah menyerahkan seluruh haknya. Ia adalah faqir—orang yang miskin di hadapan Allah, yang tidak memiliki apa pun, bahkan perasaan bahwa ia memiliki hak.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menulis tentang maqam al-taslim—kepasrahan total. Dalam maqam ini, sang hamba menyerahkan seluruh haknya kepada Allah. Ia tidak lagi berkata, “Mengapa aku diperlakukan seperti ini?” Ia tidak lagi menuntut keadilan dari makhluk, karena ia tahu bahwa keadilan sejati hanya ada di tangan Allah. Ia tidak lagi membenci, karena ia tidak memiliki hak untuk membenci. Semua hak adalah milik Allah, dan ia telah menyerahkan semuanya.
Fana’ ul-Fana’: Melampaui Kebencian dan Cinta
Sekarang kita tiba di samudra yang paling dalam. Seluruh pembahasan ini—tentang kebencian yang membakar pahala, tentang af’al Allah di balik perbuatan makhluk, tentang debu hati yang menghalangi pandangan, tentang penyerahan hak—semuanya adalah tangga yang mengantarkan kita kepada maqam fana’ ul-fana’.
Fana’ adalah lenyapnya kesadaran akan selain Allah. Fana’ fi al-af’al adalah lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain perbuatan Allah. Seorang hamba yang mencapai fana’ fi al-af’al tidak lagi melihat bahwa makhluk memiliki perbuatan mandiri. Semua perbuatan ia saksikan sebagai tajalli dari af’al Allah. Maka, ia tidak lagi membenci makhluk, karena ia melihat bahwa makhluk hanyalah alat. Ia tidak lagi sakit hati, karena ia melihat bahwa ujian itu datang dari Kekasih. Inilah obat kebencian yang paling mujarab.
Tetapi fana’ saja tidak cukup. Sebab, setelah mencapai fana’ fi al-af’al, seorang hamba mungkin masih memiliki kesadaran: “Aku telah fana’ dalam af’al Allah. Aku tidak lagi membenci makhluk, karena aku melihat bahwa semua adalah perbuatan-Nya.” Kesadaran ini, meskipun tampak mulia, adalah residu ego yang paling halus. Selama masih ada “aku” yang melihat, “aku” yang memahami, “aku” yang tidak membenci—selama itu pula masih ada dualitas. Masih ada “aku” dan “Dia. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: penghancuran terhadap kesadaran kefanaan itu sendiri. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang melihat af’al Allah. Tidak ada lagi “aku” yang memahami bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya. Tidak ada lagi “aku” yang tidak membenci. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah: Dia yang Melihat, Dia yang Memahami, Dia yang Mencintai, Dia yang Membenci—dan semua itu terjadi dalam kesatuan Wujud yang tak terbagi.
Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi memiliki “kebencian” maupun “cinta” sebagai miliknya. Semuanya adalah milik Allah. Jika Allah menghendaki hatinya mencintai, ia mencintai. Jika Allah menghendaki hatinya membenci, ia membenci. Tetapi itu semua bukanlah perbuatannya, melainkan perbuatan Allah melaluinya. Ia adalah cermin yang telah hancur, dan yang tampak hanyalah Cahaya Ilahi yang memantul dari serpihan-serpihannya.
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis dengan bahasa yang menggetarkan: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu. Inilah baqa’ sejati, karena engkau tetap dalam Wujud al-Haqq tanpa dirimu.” Dalam konteks syair ini, fana’ ul-fana’ adalah ketika peringatan “janganlah membenci sesamamu” tidak lagi terdengar sebagai perintah dari luar. Ia telah menjadi kenyataan dari dalam—bahkan tidak ada lagi “dalam” dan “luar”, karena semuanya adalah Dia.
Menjadi Samudra yang Tak Tergores
Pembaca yang budiman, syair yang telah kita renungkan ini adalah cermin. Ia memantulkan kembali kepada kita, apakah ada debu dalam hati kita. Apakah kita masih mudah membenci? Apakah kita masih sering menyalahkan orang lain? Apakah kita masih gagal melihat af’al Allah di balik peristiwa yang menimpa kita? Jika jawabannya ya, maka mungkin ada debu di hati kita yang perlu segera dibersihkan.
Perjalanan membersihkan hati adalah perjalanan seumur hidup. Ia dimulai dengan muhasabah—mengakui bahwa masalahnya bukan pada orang lain, tetapi pada diri sendiri. Ia dilanjutkan dengan tazkiyat al-nafs—menyucikan jiwa dari segala penyakit, termasuk kebencian. Ia diperdalam dengan fana’ fi al-af’al—menyaksikan bahwa tidak ada perbuatan selain perbuatan Allah. Dan ia dipuncaki dengan fana’ ul-fana’—melepaskan bahkan kesadaran “aku telah fana’,” sehingga yang tersisa hanyalah Dia.
Di puncak itu, tidak ada lagi kebencian. Tetapi bukan karena sang hamba “berusaha” untuk tidak membenci. Melainkan karena tidak ada lagi “aku” yang bisa membenci. “Aku” itu telah lenyap, lebur dalam Samudra Wujud yang tak bertepi. Dan di dalam Samudra itu, semua ombak—baik yang tampak sebagai kebaikan maupun kejahatan, sebagai cinta maupun benci—adalah gerakan dari Air yang Sama. Air yang adalah Dia. Dia. Maka, jika esok hari seseorang menyakitimu, cobalah untuk tidak segera membencinya. Berhentilah sejenak. Tariklah napas panjang-panjang. Dan tanyakanlah pada dirimu sendiri: adakah debu dalam hatiku? Mampukah aku melihat af’al Allah di balik perbuatan orang ini? Dan ingatlah, bahwa engkau tidak punya hak untuk membenci. Semua hak adalah milik-Nya. Mungkin, dengan mengingat ini, hatimu akan sedikit lebih ringan. Mungkin, dengan merenungkan ini pandanganmu akan sedikit lebih jernih.

