Minke.id – Dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) terus menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan industri ramah lingkungan melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bersama UMKM Griya Batik Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai upaya transfer teknologi hijau dan peningkatan keberlanjutan usaha batik lokal.
Tim PKM UB yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan dan Ilmu Kelautan, didampingi oleh dosen pendamping Dr. Kiki Gustinasari, S.T., M.T., Luhur Akbar Devianto, S.T., M.T., Ph.D., serta Ade Yamindago, S.Kel., M.P., M.Sc., Ph.D., berkolaborasi langsung dengan pelaku usaha batik dan difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang.
Berbagai kegiatan inovatif dilaksanakan, mulai dari sosialisasi teknik membatik waterless dan daur ulang lilin, penyuluhan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), hingga pendampingan dalam proses sertifikasi industri hijau. Tidak hanya itu, tim juga merancang desain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis ozon dan constructed wetlands yang mampu mengurangi pencemaran dari limbah cair batik.
Pemilik UMKM Griya Batik Sengguruh, Evi Wahyu Astutik, mengaku merasakan dampak positif dari program ini terhadap usahanya.
“APD dan pelatihan K3 membuat pekerja lebih aman, modul sertifikasi hijau sangat aplikatif, dan solusi pengolahan limbah memberi harapan besar bagi keberlanjutan usaha kami,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa Fauzan Aushaf Ramadhan menegaskan pentingnya transformasi industri batik menuju arah yang lebih hijau.
“Kami ingin membuktikan bahwa industri batik bisa bertransformasi menjadi ramah lingkungan tanpa kehilangan nilai budayanya. Pengolahan limbah cair, efisiensi sumber daya, dan manajemen lingkungan adalah kunci menciptakan industri batik berkelanjutan,” katanya.
Dosen pendamping, Dr. Kiki Gustinasari, menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor ini adalah wujud nyata kontribusi UB terhadap pemberdayaan industri lokal.
“Sinergi antara teknologi waterless, prinsip K3, pengolahan limbah, dan konsep industri hijau diharapkan dapat menjadi model replikasi bagi UMKM batik lainnya di Indonesia,” tegasnya.
Dengan implementasi teknologi tepat guna ini, UMKM tidak hanya dapat menekan pencemaran air, tetapi juga memperkuat transisi menuju ekonomi hijau. Program PKM ini diharapkan menjadikan Griya Batik Sengguruh sebagai percontohan industri batik ramah lingkungan di Kabupaten Malang dan inspirasi bagi UMKM batik di seluruh tanah air.

